Beijing (ANTARA) - Perdagangan luar negeri China mempertahankan momentum pertumbuhan yang solid pada Mei 2026, menegaskan ketahanan ekonomi secara lebih luas sekaligus semakin dalamnya integrasi negara tersebut dengan pasar global.

Administrasi Umum Kepabeanan (General Administration of Customs/GAC) China, Selasa (9/6), merilis data terkini, nilai total impor dan ekspor barang dalam mata uang yuan meningkat 16,9 persen secara tahunan (year on year/yoy), mencapai 4,45 triliun yuan (satu yuan sekitar Rp2.678) bulan lalu, dan tetap berada di atas angka empat triliun yuan selama tiga bulan berturut-turut.

Ekspor China naik 13,8 persen dari periode yang sama tahun lalu, sedangkan impor melonjak 21,5 persen, tunjuk data GAC. Total perdagangan luar negeri China selama lima bulan pertama tahun ini mencapai 20,68 triliun yuan atau tumbuh 15,3 persen (yoy).

Direktur Departemen Statistik dan Analisis GAC, Lyu Daliang, mengatakan perdagangan luar negeri China terus mempertahankan momentum yang solid tahun ini.

"China secara aktif memperdalam kerja sama praktis dengan mitra dagang global, sehingga memberikan kekuatan penstabil bagi perdagangan internasional," ujar Lyu.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa hubungan perdagangan China dengan para mitra dagang utamanya tetap kuat. Dalam lima bulan pertama tahun ini, nilai perdagangan dengan negara-negara anggota ASEAN meningkat 16,6 persen (yoy).

Perdagangan dengan Uni Eropa (UE) tumbuh 10,3 persen, sementara perdagangan dengan negara-negara peserta pembangunan bersama Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI) naik 13,6 persen. Sebaliknya, perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) turun 6,6 persen.

"Pasar-pasar emerging menjadi mesin pertumbuhan baru bagi perdagangan luar negeri China," kata Chen Xi, peneliti di Akademi Penelitian Ekonomi Makro China (Chinese Academy of Macroeconomic Research) di bawah Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (National Development and Reform Commission/NDRC) China.

Chen menambahkan bahwa kebijakan keterbukaan berstandar tinggi yang terus dijalankan China, termasuk kerja sama BRI dan implementasi Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP), telah meningkatkan konektivitas perdagangan dan mempermudah aktivitas bisnis lintas perbatasan.

Pada Mei, China mulai menerapkan kebijakan nol tarif yang diperluas terhadap produk impor dari seluruh 53 negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik dengan negara tersebut.

Alhasil, impor China dari Afrika pada bulan itu mencapai 95,13 miliar yuan, meningkat 15 persen (yoy). Selama lima bulan pertama tahun ini, nilai perdagangan China-Afrika untuk pertama kalinya menembus angka satu triliun yuan dalam periode tersebut.

Pilihan konsumen di China juga terus bertambah seiring semakin terbukanya akses pasar China, dengan berbagai produk, mulai dari buah-buahan tropis, biji kopi hingga kerajinan tangan, berasal dari negara-negara BRI.

"Seiring kemajuan ekonomi dan peningkatan taraf hidup masyarakat China, ekspansi impor negara ini akan membuka peluang pasar yang lebih luas bagi negara-negara lain," kata Liao Zhengrong, peneliti di Akademi Ilmu Sosial China (Chinese Academy of Social Sciences/CASS).

Selain pertumbuhan volume perdagangan, struktur perdagangan luar negeri China juga mengalami transformasi. Negara itu beralih dari ekspor barang padat karya tradisional menuju produk bernilai tambah tinggi dan padat teknologi, seperti kendaraan listrik dan panel surya.

Saat ini, produk mekanik dan elektronik menyumbang lebih dari 60 persen total ekspor China dengan nilai tambah yang jauh lebih tinggi. Dalam lima bulan pertama tahun ini, ekspor produk-produk tersebut meningkat 18,4 persen, sementara impornya naik 25,3 persen. Sebaliknya, ekspor produk padat karya turun 3,1 persen (yoy) selama periode itu.

Pertumbuhan yang kuat di sektor produk mekanik dan elektronik mencerminkan keterkaitan yang luas antara China dengan industri hulu maupun hilir global, sehingga menciptakan kondisi yang lebih baik bagi koordinasi di seluruh jaringan rantai pasokan internasional," kata Zhou Mi, peneliti di Akademi Kerja Sama Perdagangan dan Ekonomi Internasional China (Chinese Academy of International Trade and Economic Cooperation/CAITEC) di bawah Kementerian Perdagangan China.

Liao menambahkan bahwa integrasi China ke dalam rantai industri global terus semakin dalam, sehingga memperkuat keunggulan kompetitif negara tersebut.

Meskipun rantai industri dan rantai pasokan internasional menghadapi tekanan yang semakin besar di tengah volatilitas dunia, komitmen China terhadap keterbukaan tingkat tinggi, didukung oleh sistem industri yang lengkap serta kualitas produk dan layanan yang terus meningkat, telah membantu mempertahankan pertumbuhan perdagangan luar negeri pada tingkat yang relatif tinggi serta menyuntikkan stabilitas dan kepastian bagi perekonomian global, menurut para pakar.

Pewarta: Xinhua
Editor: Michael Teguh Adiputra Siahaan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.