Jakarta (ANTARA) - Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih akan berlangsung hingga Oktober 2027, menurut pandangan Pakar Hubungan Internasional Binus University Dinna Prapto Raharja.

Dampak konflik ini semakin meluas di Timur Tengah, dengan serangan Israel ke Lebanon.

“Menurut saya dengan melihat peta kekuatan Israel, (perang) masih sampai Oktober.. sampai pemilu Israel selanjutnya,” kata Dinna ketika dihubungi ANTARA, Rabu.

Menurut dia, Israel akan tetap melancarkan serangan militer terhadap kelompok pejuang Lebanon, Hizbullah, yang merupakan sekutu Iran dalam menekan Tel Aviv dan kepentingan Washington.

“Israel itu ingin membumihanguskan Beirut sebagai simbol jatuhnya Lebanon,” ujar Dinna.

Sementara itu, Dinna menyebut negosiasi damai antara AS dan Iran yang dimediasi Pakistan akan sulit mencapai kesepakatan, karena pihak-pihak yang bertikai “belum sampai di titik jenuh untuk mengupayakan cara selain intervensi militer”.

Dinna menyoroti kebuntuan dalam perundingan tersebut, karena masing-masing pihak tidak menuruti tuntutan satu sama lain demi tercapainya perjanjian damai.

“Iran merasa tidak selemah itu, sementara Amerika tidak memperhitungkan kekuatan Iran. Amunisi AS juga menipis karena perang yang sudah berlangsung 100 hari dan belum bisa menyuplai kembali senjatanya,” kata dia.

Praktisi hubungan internasional Synergy Policies itu pun meyakini bahwa Iran tidak akan menghentikan program nuklirnya, seperti yang dituntut oleh AS.

“Nuklir ini paling lama dan paling berat negosiasinya. Justru dengan Israel makin agresif di Lebanon dan negara-negara Timur Tengah, Iran makin tidak mau melepas program nuklirnya,” ujarnya.

Di lain pihak, AS hingga kini masih membekukan miliaran dolar aset Iran di berbagai negara dan memberlakukan sanksi kepada Teheran.

Padahal, Iran menuntut pencairan aset tersebut sebagai syarat utama penyelesaian konflik.

Kedua negara tersebut juga masih berseteru mengenai Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang dilintasi 20 persen pasokan minyak dunia—hingga memicu krisis energi global.

“Menurut saya situasinya masih deadlock di meja perundingan. Jadi prosesnya masih sangat lama,” ujar Dinna.

“Sulit, perjanjian (damai) masih jauh,” kata dia, menambahkan.

Baca juga: Iran: AS rusak diplomasi dengan pelanggaran gencatan senjata

Baca juga: Iran desak negara Teluk tak izinkan wilayahnya dipakai AS untuk agresi

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.