intervensi penyiraman air dari langit ini menjadi sangat krusial mengingat akumulasi luas lahan yang terbakar di wilayah Sumatera Selatan sejak awal tahun hingga 8 Juni 2026 dilaporkan telah mencapai 182,54 hektare.

Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan bantuan armada helikopter patroli dan helikopter penyiram air atau water bombing ke Provinsi Sumatera Selatan guna memitigasi kepungan 24 titik api atau firespot yang terdeteksi di wilayah tersebut.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa operasi udara tersebut ditujukan untuk melakukan pemadaman cepat pada titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau oleh tim darat.

"Berdasarkan data terkini per Selasa (9/6), tercatat akumulasi 24 titik api di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. BNPB terus memberikan dukungan operasi udara berupa helikopter patroli dan helikopter water bombing guna mempercepat upaya pengendalian kebakaran," kata dia.

Abdul menjelaskan intervensi penyiraman air dari langit ini menjadi sangat krusial mengingat akumulasi luas lahan yang terbakar di wilayah Sumatera Selatan sejak awal tahun hingga 8 Juni 2026 dilaporkan telah mencapai 182,54 hektare.

Selain di Sumatera Selatan, eskalasi karhutla di Pulau Sumatera juga melanda wilayah Riau dan Aceh, di mana sebelumnya dilaporkan kebakaran hebat menghanguskan sedikitnya 98 hektare lahan yang tersebar di dua kecamatan di Kabupaten Nagan Raya, Aceh.

Untuk wilayah Nagan Raya, tim BPBD setempat bersama TNI, Polri, dan relawan kemanusiaan difokuskan pada penanganan darat dengan mengoptimalkan dua unit mesin pompa air, di mana separuh dari total area terbakar kini telah berhasil dijinakkan.

Sementara itu pemutakhiran data kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau menunjukkan kondisi yang relatif lebih terkendali, di mana kebakaran lahan seluas dua hektare di wilayah tersebut dipastikan telah padam sepenuhnya oleh tim gabungan.

BNPB pun, menurut Abdul akan memastikan koordinasi diintensifkan dengan BPBD di seluruh klaster rawan Sumatera guna memastikan kesiapan mesin pompa darat dan patroli udara dapat bergerak simultan sebelum memasuki puncak kemarau sebagaimana yang dilaporkan dari hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Berdasarkan hasil pemutakhiran data BMKG sampai dengan akhir Mei 2026, perluasan wilayah kekeringan dimulai pada 200 zona musim (11,83 persen daratan) yang teridentifikasi lewat warna kecokelatan pada peta sebaran iklim nasional.

Pergerakan zona kering tersebut diproyeksikan melonjak drastis pada bulan Juni ini dengan memasuki 198 zona musim baru atau setara 31,6 persen luas daratan, mencakup wilayah DKI Jakarta bagian selatan hingga sebagian besar Pulau Kalimantan.

Memasuki bulan Juli, pergerakan kemarau akan kembali merambah 66 zona musim lainnya yang meliputi Jambi bagian barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, hingga Maluku Utara.

Sebaliknya, BMKG mendeteksi adanya anomali lokal akibat efek topografi yang luas di tujuh zona musim (0,68 persen daratan) yang justru bersifat atas normal atau lebih basah, yakni di Bengkulu, Gorontalo bagian utara dan selatan, serta sebagian kecil Nusa Tenggara Timur (NTT).

Baca juga: BMKG pantau ketat dinamika atmosfer secara harian sebagai basis OMC

Baca juga: Data prediksi iklim jadi basis Pemda tetapkan siaga darurat kekeringan

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.