Inovasi tanpa tata kelola adalah risiko. Dan tata kelola tanpa inovasi adalah stagnasi.
Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menggarisbawahi perlunya menyertai kecanggihan kecerdasan buatan (AI) dengan tata kelola dan landasan etika yang kuat, mengingat pemanfaatan AI di bidang kesehatan menyangkut keselamatan dan nyawa pasien.
“Ketika sebuah program komputer merekomendasikan diagnosis kepada seorang dokter, siapa yang bertanggung jawab jika rekomendasinya salah?,” kata Dante di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, AI membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, mulai dari mendeteksi penyakit lebih dini, mempercepat diagnosis, hingga mengolah data kesehatan dalam jumlah besar. Namun, katanya, teknologi ini juga membawa risiko, seperti hasil yang bias atau keliru, kesalahan diagnosis, hingga ancaman terhadap keamanan data pasien yang bersifat pribadi.
Karena itu, pemanfaatannya harus dibarengi tata kelola yang kuat, aturan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta komitmen etika yang tidak bisa ditawar.
Sejak 2023, pihaknya telah menggunakan AI untuk mendeteksi Tuberkulosis (TB) melalui alat rontgen portabel berteknologi AI. Hingga 2025, sekitar 200 ribu warga telah diperiksa menggunakan teknologi tersebut. Selain itu, sejumlah uji coba AI juga menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Pada deteksi kanker paru bersama Harrison.ai, tingkat ketepatan AI dalam menemukan kasus mencapai 90 persen, lebih tinggi dibanding pembacaan dokter radiologi tanpa bantuan AI yang berada di angka 83 persen.
Sementara itu, pada deteksi stroke melalui CT scan otak bersama RSUP Dr. M. Djamil dan RS Pusat Otak Nasional, tingkat ketepatan AI dalam memastikan pasien yang benar-benar sehat mencapai 98 persen, dibandingkan 74 persen pada pembacaan manual.
Adapun pada skrining TB massal bersama Qure.ai, dari 38 ribu pemeriksaan, AI berhasil menemukan 4 ribu orang yang diduga TB sekaligus mendeteksi 12 ribu kelainan paru lainnya.
“Data ini membuktikan satu hal: AI tidak hanya mendeteksi satu penyakit, tetapi membuka peluang yang lebih besar untuk menjaga keselamatan dan kesehatan pasien,” ujar Dante.
Meski manfaatnya nyata, Dante menekankan teknologi harus berjalan beriringan dengan tata kelola yang baik agar risikonya dapat ditekan.
“Inovasi tanpa tata kelola adalah risiko. Dan tata kelola tanpa inovasi adalah stagnasi,” katanya.
Konferensi Nasional bertajuk "Menuju Masa Depan Ekosistem Kecerdasan Buatan Kesehatan yang Aman, Adil, dan Bertanggung Jawab" digelar bersamaan dengan lokakarya mengenai penerapan panduan etik, persetujuan pasien, serta tata kelola data dalam AI kesehatan.
Dante berharap forum tersebut menghasilkan rekomendasi yang konkret, mulai dari aturan alat kesehatan berbasis AI, tata kelola data, persetujuan pasien sebelum datanya digunakan, hingga penguatan kapasitas Komite Etik Penelitian Kesehatan dalam menilai penelitian yang menggunakan AI.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, Azhar Jaya, menyampaikan, dunia kini memasuki era yang sangat dipengaruhi AI. Teknologi ini mengubah cara hidup, cara bekerja, dan cara mengambil keputusan, termasuk dalam pelayanan kesehatan.
Menurutnya, AI telah menunjukkan manfaat nyata, mulai dari membantu diagnosis penyakit, mengembangkan pengobatan yang lebih sesuai bagi tiap pasien, hingga penggunaan robot di bidang kesehatan.
Namun, manfaat tersebut harus diimbangi perhatian serius terhadap keamanan data masyarakat.
“Penelitian ke depan harus didahului oleh suatu wadah yang mengawasi. Karena itu, Kementerian Kesehatan membentuk SATUSEHAT dan SATUSEHAT AI untuk menjaga agar data masyarakat Indonesia tidak disalahgunakan atau dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” terang Azhar.
Baca juga: Presiden Prabowo tegaskan tak boleh ada korupsi di sektor kesehatan
Baca juga: Menkes: Rp20 triliun untuk kelangsungan BPJS Kesehatan tunggu Perpres
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.