Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo menilai pemerintah perlu memastikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) tepat sasaran dengan mengantisipasi migrasi konsumen Pertamax ke Pertalite.
“Perlu sekali pengetatan dan pengawasan atas tata kelola BBM subsidi, sehingga harus tegas untuk menindak pelanggaran bagi mobil-mobil yang seharusnya tidak berhak antre di jalur Pertalite,” kata Hadi dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu.
Pernyataan tersebut terkait naiknya harga Pertamax dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.
Menurut Hadi, Pertamina dalam beberapa bulan terakhir telah menanggung beban biaya yang cukup besar menyusul terjadinya kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional sekitar 30 sampai 50 persen akibat perang Timur Tengah.
“Untuk BBM Pertamax, selama ini Pertamina sudah menanggung rata-rata di kisaran Rp4.500 per liter. Konsumsi Pertamax sekitar 12 juta KL per tahun. Artinya, Pertamina harus menanggung Rp54 triliun per tahun dalam neraca laba rugi Pertamina,” kata Hadi.
Hadi menyebut di tengah gejolak politik global, Pertamina terpapar oleh kenaikan harga minyak mentah dan kenaikan harga dolar.
“Jadi, keputusan Pertamina tersebut dilakukan karena tidak ada pilihan lain,” ujar Hadi.
Pertamina Patra Niaga mengumumkan kenaikan harga produk bahan bakar minyak jenis Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026.
Menurut siaran pers perusahaan yang diterima di Jakarta pada Selasa (9/6), mulai 10 Juni 2026 harga bahan bakar non-subsidi Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Pertamina juga menyampaikan bahwa harga produk bahan bakar Pertamina selain Pertamax dan Pertamax Green tidak naik.
Harga produk bahan bakar non-subsidi Pertamax Turbo (RON 98) tetap Rp20.750 per liter, Dexlite (CN 51) tetap Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) tetap Rp24.800 per liter.
Bahan bakar minyak bersubsidi jenis Pertalite tetap dipasarkan dengan harga Rp10 ribu per liter dan Biosolar harganya masih Rp6.800 per liter.
Baca juga: Pakar UGM nilai kenaikan harga Pertamax realistis untuk jaga fiskal
Baca juga: Warga pertimbangkan beralih Pertalite akibat harga Pertamax naik
Baca juga: Pertamina: Harga BBM RON 92 di pasar internasional Rp21 ribu per liter
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.