Washington (ANTARA) - Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan untuk memerintahkan serangan militer lanjutan terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran, Fox News melaporkan pada Rabu (10/6).
Menurut laporan tersebut, Trump mengaku mempertimbangkan langkah tersebut karena menilai Iran mengulur-ulur proses negosiasi dengan Amerika Serikat.
Sebelumnya, Trump menulis di Truth Social bahwa Iran telah menunda pembicaraan dan negara itu kini "harus membayar harganya."
Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pasukan mereka telah menyelesaikan serangan terhadap Iran sebagai balasan atas serangan terhadap sebuah helikopter Apache.
Operasi tersebut menargetkan fasilitas pertahanan udara Iran, stasiun kendali darat, dan lokasi radar pengawasan di dekat Selat Hormuz.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.
Baca juga: Iran: AS rusak diplomasi dengan pelanggaran gencatan senjata
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata pada 7 April. Namun, pembicaraan lanjutan yang dimediasi Pakistan di Islamabad berakhir tanpa terobosan.
Saat ini, proses negosiasi masih berlangsung dan pembicaraan berfokus pada penyelesaian kerangka nota kesepahaman.
Pada saat yang sama, kedua pihak masih sesekali saling melancarkan serangan terbatas.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Trump: Iran akan tanggung konsekuensi karena lambat berunding
Baca juga: Trump: Kesepakatan damai dengan Iran dapat tercapai pekan ini
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.