Leyeh-leyeh dalam karya Yogi nampaknya tak hendak menyampaikan pesan tentang keadaan mager atau malas bergerak. Akan tetapi, justru aktivitas kerakyatan setelah rakyat bekerja dan rakyat yang melakukan refleksi spiritual atas hal yang telah dikerjaka

Magelang (ANTARA) - Pelukis dari kawasan Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Jawa Tengah Yogi Setiawan (52) membiarkan saja seorang penyimak karyanya berjudul "Leyeh-Leyeh" mengunduh pesan lukisan itu menjadi tentang sukses penguasa memimpin rakyat menjadi makmur, sejahtera, dan hidup tenteram.

Lukisan di atas media kertas 45x54 sentimeter, karyanya tahun ini itu menggunakan kombinasi pensil warna, pena, dan cat air. Karya tersebut menampilkan sosok menyerupai Petruk dalam dunia pewayangan yang berbaring santai di atas tikar anyaman mendong. Di sudut dinding, sebuah lampu teplok yang menyala memperkuat kesan suasana malam di ruangan tempat sosok itu berada.

Kepala Petruk disangga bantal yang tertekuk dan bersandar pada dinding gedek. Di belakangnya tampak jendela berteralis kayu dengan gorden kain yang agaknya berasal dari sarung yang dilipat dua. Tangan kirinya digambarkan menopang lipatan bantal sekaligus menyangga kepala dalam posisi santai.

Sementara itu, tangan kanannya terangkat sambil menjepit sebatang rokok di antara telunjuk dan jari tengah. Kelingkingnya dihiasi cincin berakik, sedangkan pergelangan tangannya melingkar gelang bermotif akar bahar. Kaki kirinya ditekuk ke samping dan bertumpu di atas lutut kanan. Posisi kaki yang ditarik ke belakang membuat lutut kanan terangkat, membentuk siluet menyerupai huruf "V" terbalik.

Wajah Petruk yang dalam dunia pewayangan sebagai sosok kerakyatan, dilukiskan tersenyum dan sorot mata terkesan bungah sedang leyeh-leyeh ditemani radio transistor, teko dan cangkir di atas lepek, serta camilan. Ada juga lukisan seekor kucing berparas manis sedang tidur di peraduannya, setikar mendong dengan sang punakawan itu.

Persis di dinding gedek di atas kepala Petruk leyeh-leyeh itu, terselip wayang yang pelukisnya tidak menyebut nama sosok itu. Akan tetapi, sosok tersebut terkesan sebagai salah satu tokoh wayang dari kesatria keluarga Pandawa. Proporsi kesatria dalam karya lukis tersebut jauh kalah besar dengan punakawan.

Dalang Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang Sih Agung Prasetyo mengonfirmasi sosok wayang itu sebagai Werkudara atau Bima, atau Bratasena, sedangkan sosok leyeh-leyeh sebagai Petruk.

Dalam kultur masyarakat Jawa, secara gampang keluarga Pandawa dianggap sebagai pemimpin mumpuni dan perbawa dalam menata negara sehingga pemerintahan kuat dan rakyatnya hidup sejahtera serta makmur, sedangkan kubu antagonis dalam pewayangan dengan kisah Mahabharata itu, sebagai Kurawa.

Lukisan "Leyeh-Leyeh" yang memaknai kemewahan dari sudut pandang rakyat kecil melalui kesederhanaan hidup sehari-hari itu merupakan satu dari 45 karya drawing yang dipamerkan oleh tujuh perupa asal Magelang dan sekitarnya di Loka Budaya Kota Magelang pada 30 Mei–6 Juni 2026.

Para seniman mengusung tajuk besar pameran "Sangkan Paraning Gambar", sebuah judul yang terdengar gagah sekaligus mengundang tafsir. Nama tersebut agaknya merupakan pelesetan dari konsep dalam filsafat Jawa, "Sangkan Paraning Dumadi", yang berbicara tentang asal-usul dan tujuan hidup manusia. Dalam pemahaman itu, kehidupan dipandang sebagai perjalanan untuk menunaikan kebajikan sebelum akhirnya kembali kepada Sang Pencipta.

Sejumlah orang menyaksikan lukisan dalam pameran tujuh pelukis dengan tema "Sangkan Paraning Gambar" di Loka Budaya Kota Magelang, Sabtu (30/5/2026). ANTARA/Hari Atmoko


Penulis kuratorial pameran di kawasan alun-alun Kota Magelang itu adalah Presiden Indonesia Raya Menggambar, Edo Pop. Sementara pembukaan pameran dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang, Nurwiyono Slamet Nugroho, yang mewakili Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono.

Dalam kesempatan tersebut, Nurwiyono sempat berhenti sejenak di ruang pamer ketiga untuk mengamati lukisan "Leyeh-Leyeh" yang terpajang di dinding Loka Budaya Kota Magelang. Ia didampingi langsung oleh sang pelukis, Yogi Setiawan, yang menceritakan adanya seorang pengunjung yang menafsirkan karya tersebut dari sudut pandang politik.

Mendengar penjelasan itu, Nurwiyono tampak hanya tersenyum sambil terus memperhatikan "Leyeh-Leyeh". Sebagai seorang birokrat, ia tidak memberikan komentar khusus, memilih menikmati karya itu sebagaimana pengunjung lainnya yang bebas menafsirkan makna di baliknya.

Akan tetapi, ketika berpidato membuka pameran bersama tersebut, ia mengemukakan bahwa karya lukisan memiliki peranan penting dalam memberikan inspirasi kepada publik.

Termasuk dalam konteks edukasi dan pentingnya karya seni dalam pembentukan kepribadian anak, karya seni gambar memberikan inspirasi kepada kalangan pelajar.

Oleh penulis Edo Pop, lukisan Yogi dinilai menggunakan pendekatan visual secara cair dan jenaka untuk menghadirkan humor yang bukan semata-mata sebagai suatu karya untuk menghibur, melainkan menjadi cara sang pelukis dalam membaca realitas secara kritis dan reflektif.

Betapa sesungguhnya kuasa rakyat untuk leyeh-leyeh dilakukan karena ia sedang melepas penat setelah menjalani aktivitas untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Leyeh-leyeh dalam karya Yogi nampaknya tak hendak menyampaikan pesan tentang keadaan mager atau malas bergerak. Akan tetapi, justru aktivitas kerakyatan setelah rakyat bekerja dan rakyat yang melakukan refleksi spiritual atas hal yang telah dikerjakan sehingga mencapai kesadaran tentang makna makmur, sejahtera, dan tenteram.

Karya tersebut suatu penampakan terhadap perjalanan sunyi yang disebut Edo Pop justru dalam kesunyian itulah gambar menemukan kedalaman.

Hal demikian, tentu saja berbeda dengan bermalas-malas yang memang karena mager. Orang tidak melakukan aktivitas apa pun merespons suatu keadaan atau untuk pemenuhan kebutuhan. Ibaratnya, orang menunggu durian runtuh. Itu pun bisa menjadi sial kalau durian jatuh menimpa tubuhnya sehingga yang diperoleh berupa luka.

Sebagai karya bermuatan jenaka yang sekaligus bernilai satire, Yogi agaknya menghadirkan relasi sosok kesatria Bima dan figur kerakyatan Petruk dalam lukisan itu, sebagai amanah diemban penguasa untuk terus menjaga rakyat yang sedang leyeh-leyeh agar tak terusik aral melintang, alias penguasa menjaga rakyatnya tetap makmur, sejahtera dan tenteram secara berkelanjutan.

Rakyat yang terjaga dengan baik, akan melanjutkan pekerjaan sepenuh jiwa dan raga untuk kelangsungan hidup makmur dan sejaheranya. Tentu saja, hal tersebut termasuk menjalankan kewajiban membayar pajak serta patuh atas aturan pemerintahan di tangan penguasa yang amanah dan berwibawa.

Kalau menyimak karya "Leyeh-Leyeh" dan kemudian melarutkan diri dalam refleksi keadaan terkini yang bertumpu pada lukisan tersebut, barangkali memang tak akan sampai bertemu kepada pesan relasi kritis rakyat kepada penguasa atau sebaliknya relasi kepekaan penguasa kepada rakyat.

Itu lukisan rupa-rupanya hendak bersuar tentang pesan pentingnya keadaan harmoni, namun karya tersebut dikerjakan secara kritis dan reflektif dengan berpihak kepada rakyat sehingga judulnya "Leyeh-Leyeh", sebagai kekuasaan rakyat.

Baca juga: FSKN gelar pameran lukisan "Revitalisasi Keraton Nusantara"

Baca juga: Seri “Mandala” Made Wianta dipamerkan di Apurva

Baca juga: Menengok suasana pameran lukisan Tahun Baru Imlek di Beijing, China

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.