Sejauh ini, kita baik-baik saja

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arif Havas Oegroseno menyatakan Indonesia terus mengoptimalkan sumber minyak alternatif di Benua Afrika untuk mengatasi gejolak energi nasional akibat ketegangan di Selat Hormuz

"Kita sekarang banyak bekerja sama dengan Aljazair, Nigeria, Angola; banyak negara Afrika," kata Havas ditemui seusai rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis.

Strategi Indonesia saat ini, menurut Havas, adalah mendapatkan pasokan minyak dari kawasan-kawasan tanpa melewati Selat Hormuz, yang kini ditutup lagi akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Kriteria tersebut menjadikan Afrika sebagai alternatif tepat sebagai sumber energi bagi Indonesia, tambahnya.

"Kita sudah banyak menerima pasokan minyak dari Afrika. Sejauh ini, kita baik-baik saja," kata Havas.

Baca juga: Selat Hormuz ditutup lagi di tengah eskalasi ketegangan Iran-AS

Selain Afrika, Indonesia juga menjajaki peluang impor minyak dari negara-negara produsen minyak dan gas (migas) di Amerika Latin.

"Kami sedang mencari banyak negara di sana yang memiliki potensi migas. Hampir semua negara di Amerika Latin punya potensinya," ucap Havas.

Pada April lalu, Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan Indonesia menjadikan Afrika sebagai salah satu alternatif sumber energi di tengah ketegangan di Timur Tengah.

"Pertamina dan Pemerintah selalu mencarikan alternatif-alternatif resource energi yang dimiliki dan termasuk dari negara-negara yang memang kami sudah laksanakan (impor) selama ini, melalui Afrika dan negara lainnya," kata Baron.

Baca juga: RI serukan Iran-AS redakan ketegangan usai eskalasi di Selat Hormuz

Baron menjelaskan langkah tersebut selaras dengan yang disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ihwal alternatif sumber minyak mentah selama Selat Hormuz masih ditutup akibat perang.

Dia pun menyampaikan Pertamina terus berupaya optimal dalam memastikan ketersediaan BBM maupun elpiji bagi masyarakat dan industri.

Pemerintah sebelumnya mencatat sekitar 20–25 persen impor minyak mentah Indonesia dikirim melalui Selat Hormuz.

Langkah pencarian alternatif impor minyak tersebut juga direncanakan Pertamina setelah dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) masih tertahan di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.

Baca juga: Media: Iran dan AS bentrok di laut, Iran tutup total Selat Hormuz

Pewarta: Nabil Ihsan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.