Gianyar, Bali (ANTARA) - Petani di Subak Timbul, Desa Pupuan, Kabupaten Gianyar, Bali, memperbaiki pengolahan dan kemasan beras, hasil panen padi varietas lokal beras mansur, sehingga mendongkrak pendapatan mereka.
“Petani di Subak Timbul sudah bisa mengolah dan menjual. Pendapatan kami ada kenaikan karena harga jual naik dari Rp15.000 per kilogram menjadi Rp18.000 per kilogram setelah dikemas,” kata Pekaseh (ketua) Subak Timbul Ketut Supatya di Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali, Kamis.
Ia menjelaskan sebanyak 80 persen padi yang dipanen di kawasan pertanian seluas 61 hektare adalah varietas lokal padi mansur yang digarap oleh 118 orang petani.
Jenis padi yang diproduksi petani setempat yaitu padi mansur putih dan cokelat, beras merah, beras hitam, ketan merah, ketan putih dan beras varietas cigaluh serta ketan hitam yang hampir punah dan kini mulai dikembangkan.
Rata-rata hasil panen yang berlangsung dua kali dalam satu tahun itu mencapai sekitar lima ton per hektare.
Varietas padi itu memiliki keunikan dari segi bentuk yang gemuk dan ketika ditanak menjadi nasi, lebih pulen dan terasa kenyal.
Baca juga: BRIN kembangkan adonan "sourdough" berbasis beras lokal Gunungkidul
Baca juga: Penghormatan terhadap beras lokal dari petani
Ketut menjelaskan selama sekitar 1,5 tahun belakangan pihaknya mendapatkan pendampingan serta bantuan mesin giling dan sortir dari JICA dan Universitas Waseda Jepang.
Selain itu juga dukungan dari Dinas Pertanian Gianyar dan BRIDA Gianyar.
Sebelumnya, petani menjual beras per kilogram rata-rata mencapai Rp15 ribu dengan hasil panen yang belum dikemas dan belum disortir.
Setelah mendapatkan pendampingan termasuk pemisahan beras ukuran penuh dan beras patah, harga beras petani tersebut naik menjadi Rp18 ribu per kilogram.
Beras petani itu diserap oleh Timbul Harmoni, badan usaha sejenis koperasi berbasis komunitas yang dikelola oleh kelompok subak setempat.
Bantuan mesin, pemasaran dan pendampingan juga mendongkrak nilai jual padi mansur oleh badan usaha itu yang diserap konsumen di antaranya hotel berbintang, hingga menyasar pasar dalam jaringan (marketplace) dengan harga per kilogram kisaran Rp30 ribu menurut jenis dan kualitas.
Sementara itu, Konsul Jenderal Jepang Miyakawa Katsutoshi saat meninjau panen padi mansur mengapresiasi hasil produksi petani apalagi setelah mendapat bantuan dan pembinaan.
Ia berharap pendampingan tersebut dapat meningkatkan hasil produksi varietas lokal dan mendukung swasembada beras pemerintah Indonesia.
“Saya sudah makan nasi mansur, sangat enak dan sehat. Saya bangga karena Jepang bisa membantu meningkatkan kualitas produk beras dan pendapatan petani,” ucapnya.
Baca juga: Bulog kembangkan produk beras premium varietas lokal
Baca juga: Kementan dorong ekspor beras hitam varietas lokal
Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.