kombinasi antara teknologi modern dan penyempurnaan regulasi telah memperbesar peluang terciptanya pertandingan yang lebih adil.

Jakarta (ANTARA) - Piala Dunia 2026 di Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat segera bergulir. Dari Stadion Azteca di Mexico City, peluit pertama akan mengawali perjalanan panjang yang dipenuhi harapan, impian, dan perjuangan.

Tim dari 48 negara telah tiba di berbagai kota di Amerika Utara. Mereka datang dari latar yang berbeda, membawa warna, sejarah, dan cita-cita yang tak sama. Namun, tujuan mereka serupa: menaklukkan panggung sepak bola paling megah di dunia.

Di lapangan hijau, setiap pemain akan berlari mengejar satu hal yang sama yaitu kemenangan. Ada yang akan pulang dengan senyum kemenangan, ada pula yang harus menundukkan kepala menerima kekalahan.

Namun, Piala Dunia tidak hanya berkisah tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Di balik gemuruh stadion dan sorak-sorai jutaan pendukung, ada satu nilai yang selalu dicari dan dijaga yaitu keadilan. Sebab, kemenangan akan terasa lebih bermakna ketika diraih secara jujur. Sebaliknya, kekalahan akan lebih mudah diterima ketika lahir dari pertandingan yang berjalan dengan adil.

Sepanjang sejarahnya, Piala Dunia telah menghadirkan banyak kisah agung yang terus dikenang lintas generasi. Tetapi, sejarah juga menyimpan sejumlah luka yang lahir dari keputusan yang keliru.

Pada 1986, Inggris harus menyaksikan Diego Maradona mencetak gol dengan tangannya dalam laga melawan Argentina. Gol yang kemudian dikenang sebagai "Tangan Tuhan" itu menjadi simbol bagaimana keterbatasan manusia terkadang ikut menentukan arah sebuah pertandingan.

Enam belas tahun kemudian, Italia merasakan kekecewaan yang serupa. Dalam laga melawan Korea Selatan pada Piala Dunia 2002, sejumlah keputusan wasit memantik kemarahan dan perdebatan panjang yang masih dikenang hingga kini.

Lalu pada Piala Dunia 2010, Inggris kembali berada di sisi yang dirugikan. Tembakan Frank Lampard memantul dari mistar dan telah melewati garis gawang sebelum keluar kembali. Mata jutaan penonton melihatnya sebagai gol. Tayangan ulang membenarkannya. Namun pada saat itu, keputusan di lapangan berkata lain. Bola telah masuk, tetapi gol tak pernah tercatat.

Peristiwa itu menjadi salah satu alasan utama FIFA kemudian memperkenalkan teknologi garis gawang agar tidak ada lagi gol yang hilang di antara keraguan dan keterlambatan pandangan mata.

Perjalanan inovasi berlanjut pada Piala Dunia 2018 di Rusia melalui penggunaan Video Assistant Referee (VAR). Teknologi tersebut hadir bukan untuk menggantikan wasit, melainkan membantu mereka melihat lebih jelas apa yang mungkin luput dalam sepersekian detik.

Empat tahun kemudian di Qatar, kecerdasan buatan mulai mengambil peran yang lebih besar. Teknologi offside semi-otomatis dan bola yang dilengkapi sensor memungkinkan setiap sentuhan, pergerakan, dan posisi pemain dibaca dengan ketelitian yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Kini, pada Piala Dunia edisi ke-23 yang akan berlangsung di Amerika Utara, FIFA akan menambah lagi teknologi termutakhir, lebih unggul dibandingkan dengan edisi-edisi sebelumnya.

Kecerdasan buatan

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.