Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan angkutan logistik dan angkutan umum masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk menekan efek domino dari naiknya Pertamax.
“Paling tidak, efek domino bisa diminimalisir. Contoh, untuk transportasi umum, angkutan umum, angkutan logistik, itu kan masih menggunakan BBM yang disubsidi oleh pemerintah,” ujar Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis.
Oleh karena itu, menurut Anggia, dampak domino dari kenaikan BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green dapat diminimalisir.
“Kalau mau jujur dan tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan, pasti dampaknya minimal dari peningkatan harga BBM nonsubsidi ini,” kata Anggia.
Baca juga: Ekonom: Perlu bansos tunai guna jaga daya beli saat Pertamax naik
Pernyataan tersebut terkait dengan kekhawatiran atas dampak kenaikan harga Pertamax yang berbeda pada setiap sektor usaha.
Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira memperkirakan industri logistik, transportasi, distribusi barang, jasa lapangan, konstruksi, perkebunan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan tingkat mobilitas tinggi akan merasakan peningkatan biaya operasional secara langsung.
Untuk itu, HIPMI mendorong pemerintah untuk menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna menjaga daya saing dunia usaha.
Upaya tyang bisa dilakukan, menurut dia, di antaranya dilakukan melalui penguatan efisiensi rantai logistik nasional, percepatan pembangunan infrastruktur energi dan transportasi, serta pemberian insentif bagi sektor-sektor produktif yang terdampak signifikan, khususnya industri padat karya dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.