Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis bedah saraf subspesialis bedah saraf neurovaskular RS Pondok Indah Dr. dr. Mardjono Tjahjadi Sp. B.S, Subsp. N-Vas., Ph.D, FICS menyampaikan bahwa tumor otak untuk penanganan yang utama melalui tindakan operasi.
Menurut dia, masih banyak pasien yang berkonsultasi terkait tumor otak dan takut jika harus menjalani operasi.
“Jadi kita harapkan dengan teknik yang tepat operasi otak itu tidak berarti harus kehilangan fungsi. Tumor otak kalau dibiarkan juga akan membunuh maupun membuat buta atau lumpuh,” kata dokter yang akrab disapa Joy itu, dalam temu media di Jakarta, pada Kamis.
Baca juga: Sejarah Hari Tumor Otak Sedunia, mencari harapan kesembuhan
Baca juga: Memahami gejala dan faktor risiko tumor hipofisis
Joy mengatakan tumor otak merupakan pertumbuhan sel abnormal di dalam atau sekitar otak yang dapat mengganggu dan menimbulkan berbagai masalah kesehatan.
Padahal, otak itu sebagai sesuatu organ dalam tubuh yang paling kompleks diantara semua organ lainnya.
Joy menambahkan tumor otak belum diketahui penyebabnya bisa terjadi. Namun, sebagian tumor tumbuh di dekat eloquent areas, yaitu, area penting di otak yang berperan dalam mengendalikan berbagai fungsi vital.
Adapun area-area penting yang perlu diperhatikan seperti area bicara, gerakan, sensorik, pemahaman, dan penglihatan. Jika area ini mengalami kerusakan saat operasi, pasien berisiko mengalami gangguan neurologis permanen.
“Dan ini area-area anatominya. Area ini kita sebut sebagai area eloquent di otak yang saat ini kalau ada tumor di daerah ini bisa kita operasi awake brain,” tutur dokter yang menamatkan studi spesialis beda saraf di Universitas Padjajaran itu.
Seiring dengan kemajuan teknologi di dunia medis, kini metode operasi tumor otak bisa dilakukan saat pasien dalam keadaan sadar selama tindakan yaitu awake brain surgery.
Teknik ini memungkinkan dokter memantau secara langsung fungsi-fungsi penting otak selama operasi sehingga risiko gangguan pada kemampuan bicara, motorik, maupun fungsi neurologis lainnya pasca operasi, dapat diminimalkan.
“Pasien akan diberikan anestesi lokal pada kulit kepala dan sekitarnya sehingga tidak merasakan nyeri dan tetap dalam kondisi sadar selama operasi. Dokter akan berinteraksi dengan pasien, untuk memastikan area penting otak tetap berfungsi dengan baik,” imbuh dia.
Baca juga: Sakit kepala konsisten timbul pagi hari bisa menjadi gejala tumor otak
Baca juga: Penelitian: Kecemasan dan vertigo bisa jadi indikasi tumor otak jinak
Baca juga: Studi: lapisan pelindung otak dapat perlambat pertumbuhan tumor
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.