Banjarbaru (ANTARA) - Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan menyebut penemuan burung haruai yang merupakan endemik langka Kalimantan di Gunung Kahung, Kabupaten Banjar menjadi indikator terjaganya ekosistem hutan untuk memperkuat biodiversitas kawasan Geopark Meratus.

Kepala Dishut Kalsel Fathimatuzzahra di Banjarbaru, Kamis, mengatakan pihaknya akan melakukan peninjauan lapangan dalam waktu dekat ke kawasan Gunung Kahung, tempat kemunculan burung haruai tersebut pada beberapa hari lalu.

“Burung haruai yang memiliki kemiripan dengan burung merak merupakan satwa yang menarik dan keberadaannya menjadi salah satu indikasi kekayaan biodiversitas yang masih terjaga di kawasan hutan Kalimantan Selatan,” ujarnya.

Baca juga: Tim gabungan di Bali gagalkan penyelundupan burung tanpa dokumen

Ia mengatakan Dishut Kalsel akan memastikan keberadaan satwa itu di habitat alaminya dan segera menindaklanjuti temuan keberadaan burung haruai tersebut melalui kunjungan ke Gunung Kahung untuk memantau langsung.

“Burung haruai merupakan satwa yang sangat menarik dan keberadaannya menjadi indikator bahwa ekosistem hutan kita masih terjaga. Ini menjadi kabar baik bagi upaya konservasi di Kalimantan Selatan. Insya Allah dalam waktu dekat kita akan melihat dan memastikan keberadaannya,” katanya.

Selain menyoroti keberadaan burung haruai, Fathimatuzzahra juga mengingatkan seluruh jajaran untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mulai berlangsung di Kalimantan Selatan dengan puncak diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Ia meminta seluruh personel memperkuat langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan hutan, sebagai upaya menjaga kelestarian ekosistem yang menjadi habitat satwa liar serta mendukung keberlanjutan fungsi kawasan hutan.

Baca juga: Taman Nasional Kutai jadi wadah pelestarian 324 fauna

Pewarta: Tumpal Andani Aritonang
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.