Jakarta (ANTARA) - Pendiri dan Direktur Gateway of Healing Dr. Chandni Tugnait mengungkapkan alasan kecemasan, gelisah mengganggu yang kerap terjadi pada malam hari yang mungkin dialami banyak orang.

“Bagi banyak orang, malam hari bukanlah waktu istirahat, melainkan lebih seperti penghitungan tak terencana dari hari yang terlalu ramai untuk diproses. Ini bukan kegagalan pribadi atau gangguan tidur, tetapi inilah yang terjadi ketika sistem saraf telah kelebihan beban selama berjam-jam dan akhirnya diberi momen tenang, sistem saraf tidak tahu harus berbuat apa,” ujar Tugnait sebagaimana dilaporkan laman Hindustan Times, Rabu (10/6) waktu setempat.

Baca juga: Cara sederhana yang efektif untuk mengatasi stres dan kecemasan

Baca juga: Kendalikan cara berpikir untuk hindari kecemasan setelah liburan

Secara lengkap kecemasan pada malam hari disebabkan oleh otak yang tidak mendapat waktu istirahat saat siang hari, hal ini bisa jadi disebabkan karena notifikasi, tenggat Waktu dan gangguan digital yang membuat otak sibuk sepanjang hari.

Kemudian pada malam hari saat suasana tenang, stres dan kekhawatiran belum juga usai.

Kedua adalah hormon stres yang mungkin masih aktif, hal ini bisa disebabkan karena stimulasi berlebihan pada siang hari yang mengganggu siklus tubuh.

Kortisol yang masih tinggi membuat system saraf tetap waspada pada ancaman yang sebenarnya tidak pernah datang, akibatnya tubuh merasa gelisah, waspada dan sulit untuk sekedar rileks.

Ketiga yakni tubuh yang terbiasa dengan aktivitas, kebisingan dan kesibukan di tempat kerja saat pagi sehingga saat malam tiba justru membuat pikiran teralihkan, dan ketika tidak ada suara atau aktivitas, pikiran-pikiran itu kembali dan terasa intens.

Psikoterapis itu pun merekomendasikan untuk menyiapkan rutinitas tidur seperti menjauhkan layer, menulis jurnal, membaca dan melakukan peregangan atau mendengarkan musik yang menenangkan yang diharapkan secara kolektif mampu menenangkan saraf.

Baca juga: Psikolog: Atasi cemas dalam pekerjaan demi jaga produktivitas

Baca juga: Manfaat meditasi untuk redakan stres dan kurangi kecemasan

Baca juga: Membedakan perasaan emosi dan stres yang saling berkaitan

Penerjemah: Sinta Ambarwati
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.