Jakarta (ANTARA) - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengajak anak-anak memperbanyak aktivitas fisik sebagai alternatif bermain gawai sekaligus mencegah dampak negatif platform digital melalui program Tunggu Anak Siap (Tunas) Jakarta.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemkomdigi Bonifasius Wahyu Pudjianto mengatakan saat ini anak-anak semakin aktif di ruang digital dengan tingkat paparan layar mencapai 7,5 jam per hari.
"Mereka (anak-anak) telah sangat aktif di ruang digital, bahkan sampai sekitar 7,5 jam per hari. Kita terus dukung kembalinya mereka berinteraksi dalam kondisi physical. Ini penting, bagaimana anak-anak bisa belajar bermain, berteman, dan mengenal dunia fisik," kata Bonifasius dalam peresmian Tunas Jakarta, di Jakarta Selatan, Jumat.
Bonifasius menyebutkan anak-anak tumbuh di dua ruang yang berbeda, yakni dunia nyata serta dunia digital. Di tengah tingginya tingkat penggunaan gawai, program Tunas Jakarta dihadirkan sebagai upaya mendorong anak-anak kembali berinteraksi di dunia nyata melalui berbagai kegiatan fisik.
Baca juga: Netflix, PUBG, hingga Shopee telah penuhi penilaian mandiri PP Tunas
Kegiatan tersebut sejalan dengan implemtasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) yang membatasi akses anak-anak terhadap platform digital berisiko.
Dengan prinsip "Tunggu Anak Siap", Boni menegaskan PP Tunas tidak dimaksudkan untuk membatasi akses anak terhadap teknologi, melainkan memastikan mereka memasuki ruang digital ketika benar-benar siap baik dari aspek usia, emosional, maupun pemahaman terhadap risiko.
"Tunggu Anak Siap bukan berarti menghambat anak, bukan berarti membuat anak tertinggal, namun justru sebaliknya, kita ingin memastikan anak-anak masuk ke ruang digital saat mereka benar-benar siap baik secara usia, emosi, siap secara pemahaman," ujarnya.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Kepemudaan dan Start Up Alfreno Kautsar Ramadhan mengatakan Tunas Jakarta menjadi jawaban atas keluh kesah para orang tua mengenai aktivitas alternatif bagi anak-anak setelah pembatasan akses platform digital diterapkan.
"Kita ingin memberikan sebuah alternatif. Jadi kita selama ini selalu mendorong bahwasanya dunia digital ini ada beberapa risiko, namun kita juga harus dorong alternatifnya," kata Alfreno.
Tunas Jakarta diselenggarakan di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan dengan menghadirkan beragam aktivitas nyata seperti permainan hingga olahraga.
Baca juga: AKSI Digital lengkapi upaya PP Tunas proteksi anak di ruang digital
Pelaksanaan program tersebut turut melibatkan berbagai pihak seperti Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, komunitas, operator seluler, hingga platform digital.
Alfreno menegaskan Tunas Jakarta tidak bertujuan menjauhkan anak dari teknologi atau memutus hubungan mereka dengan dunia digital.
Sebaliknya, kegiatan itu dirancang untuk mengajak masyarakat membangun keseimbangan antara aktivitas di ruang digital dan ruang fisik, terutama untuk anak-anak.
"Kita ingin memberitahukan kepada publik bahwa ruang digital itu bagus, kita harus tetap memiliki pengawasan dari orang tua, namun kita juga tetap membutuhkan koneksi di ruang publik dan ruang fisik," ujarnya.
Ke depan, Kemkomdigi membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah lain untuk menggelar program serupa.
"Hari ini merupakan yang pertama dan berlangsung selama dua hari. Selebihnya kita masih meraba pemprov ataupun pemda mana yang memang ingin berkolaborasi," kata Alfreno.
Baca juga: Kemkomdigi sebut 19 PSE serahkan penilaian mandiri patuhi PP Tunas
Baca juga: Menkomdigi: 4K perlu dikenali orang tua lindungi anak di ruang digital
Baca juga: Pengamat: Masyarakat semakin sadar terhadap dampak medsos bagi anak
Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.