Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai ketersediaan modal kerja menjadi syarat penting yang perlu dipenuhi sebelum Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih menjalankan peran sebagai pemasok program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut dia, secara konsep Kopdes Merah Putih dapat menjadi offtaker sekaligus pemasok bahan baku MBG karena telah didukung regulasi melalui Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 yang mengamanatkan agar penyediaan bahan pangan program tersebut memprioritaskan produk lokal dan melibatkan koperasi dalam rantai pasok.
Namun demikian, Yusuf kepada ANTARA di Jakarta, Jumat, mengatakan tantangan terbesar saat ini bukan pada aspek regulasi, melainkan kesiapan usaha koperasi, terutama dari sisi permodalan.
"Persoalan paling mendasar ada pada modal kerja. Fungsi offtaker mengharuskan koperasi membeli hasil panen dari petani, menyimpan stok, lalu menunggu pembayaran dari pembeli akhir, dalam hal ini SPPG," katanya.
Ia menjelaskan selama periode tersebut dana koperasi akan tertahan dalam bentuk persediaan dan piutang.
Di sisi lain, struktur pembiayaan yang tersedia saat ini dinilai lebih banyak diarahkan untuk investasi fisik seperti pembangunan gedung, gudang, maupun cold storage.
"Aset-aset tersebut penting, tetapi tidak dapat digunakan untuk membiayai pembelian komoditas sehari-hari. Akibatnya, ruang gerak koperasi untuk memutar usaha masih terbatas," ujar dia.
Yusuf menilai fokus kebijakan tidak seharusnya hanya pada penambahan besaran kredit, tetapi juga pada penyesuaian desain pembiayaan agar sesuai dengan kebutuhan operasional koperasi.
Menurut dia, skema modal kerja idealnya berbasis kontrak atau purchase order.
Dalam program MBG, lanjut dia, koperasi memiliki keunggulan berupa adanya pembeli yang relatif pasti karena program tersebut dijalankan pemerintah melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
"Jika koperasi sudah memiliki kontrak pasokan dari SPPG, bank dapat membiayai kebutuhan modal kerjanya berdasarkan nilai kontrak tersebut. Ketika pembayaran dari SPPG diterima, dana tersebut langsung digunakan untuk melunasi fasilitas pembiayaan," katanya.
Ia menilai skema tersebut lebih sehat karena risiko kredit bertumpu pada arus kas yang nyata, bukan semata-mata pada kemampuan koperasi yang masih berkembang.
Pemerintah menargetkan Kopdes Merah Putih dapat berperan sebagai offtaker hasil pertanian, peternakan, perikanan, dan produk desa lainnya.
Produk-produk tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pasokan bahan baku bagi Program Makan Bergizi Gratis, sekaligus memperkuat ekonomi desa melalui pemangkasan rantai distribusi.
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.