Seorang jurnalis tidak hanya dituntut memiliki kemampuan jurnalistik yang baik, tetapi juga memahami aspek keselamatan diri, mitigasi risiko, teamwork, dan pengambilan keputusan dalam situasi yang penuh dengan tantangan.
Jakarta (ANTARA) - Indonesia saat ini masih bekerja menangani kelompok separatis, salah satunya di Papua. Pengiriman pasukan TNI ke sana sampai saat ini masih terus terjadi demi menjaga masyarakat dari teror kelompok kriminal.
Para putra terbaik bangsa itu sedang bertarung mempertahankan NKRI. Mereka siap gugur di tanah yang mungkin bukan jadi tempat kelahirannya.
Di sisi lain, masyarakat yang ada di kota-kota besar seperti Jakarta sibuk menjalani hari. Semua masih bisa tertawa di balik sibuknya kota, masih bisa mengeluh di sela-sela macet dan masih bisa berhayal setengah tertidur di dalam padatnya Trans Jakarta.
Sungguh dua pemandangan yang berbeda, satu tenggelam dalam hutan di tengah hujan peluru, satu lagi tenggelam dalam gemerlap ibu kota.
Sebenarnya, seperti apa rasanya berada di dalam medan perang ? Seperti apa rasanya bertahan dan menyerang di tengah hujan peluru ? dan seperti apa rasanya berlindung di balik alam agar tidak tertembak ?
ANTARA dan beberapa awak media lain berkesempatan mengikuti "Workshop Liputan di Daerah Konflik" yang digelar di Markas Brigade Parako I Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) TNI AU di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Dalam kegiatan itu, para awak media dilatih mengikuti tata cara liputan di tengah wilayah konflik. Kami juga dilatih untuk lebih disiplin dalam menjaga diri dan berlindung di medan tempur.
Di hari pertama pada Kamis (11/6), para awak media menjalani pelatihan di bidang psikologi lapangan untuk membaca watak setiap awak media sekaligus melatih kekompakan. Kegiatan lalu dilanjutkan dengan latihan menembak.
Latihan utama terjadi di hari ke dua di mana para awak media akan mengikuti simulasi patroli hutan dan pertempuran kota.
Baca juga: Korpasgat gelar latihan tempur bersama dengan pasukan khusus AS
Persiapan diri
Sebelum mengikuti simulasi, para awak media dilatih untuk melakukan gerakan-gerakan tertentu untuk melindungi diri.
Gerakan itu terdiri dari tiarap, merayap, berguling, merunduk hingga jongkok. Semua gerakan harus dilakukan sesuai dengan instruksi dari personel TNI yang nanti akan membimbing awak media di lapangan.
Saat melaksanakan gerakan, mereka telah mengenakan rompi lapis baja dan helm taktis. Rompi yang melekat di tubuh memiliki berat 3,5 kilogram, ditambah dengan beban helm yang cukup berat. Bayangkan saja, tubuh-tubuh yang tidak terbiasa dengan aktivitas fisik berat itu harus melakukan manuver taktis sambil memikul beban sedemikian rupa.
Sesi latihan dan pemanasan pun selesai, saatnya para awak media memasuki simulasi pertama.
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.