Jakarta (ANTARA) - PT Sucofindo (Persero) memperkuat daya saing dunia usaha nasional melalui pengembangan inovasi berkelanjutan guna mendorong pertumbuhan bisnis, meningkatkan ketahanan menghadapi perubahan iklim, serta menciptakan nilai tambah ekonomi jangka panjang.
Direktur Utama Sucofindo, Sandry Pasambuna mengatakan upaya itu dilakukan melalui Environmental and Social Innovation Award (ENSIA) 2026, sebuah ajang apresiasi yang mendorong lahirnya inovasi-inovasi terbaik di bidang lingkungan dan sosial dari berbagai sektor usaha di Indonesia.
“ENSIA merupakan bentuk komitmen kami dalam mendorong dunia usaha untuk terus berinovasi dan mengambil peran aktif dalam menjawab berbagai tantangan," kata Sandry dalam keterangan di Jakarta, Jumat.
Dia menyampaikan peluncuran ENSIA 2026 menjadi bagian dari komitmen salah satu perusahaan BUMN tersebut dalam memperkuat implementasi prinsip keberlanjutan sekaligus mendorong kontribusi dunia usaha dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
Melalui ajang itu, perusahaan yang ada di Indonesia didorong dapat menghadirkan inovasi yang tidak hanya menciptakan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat, tetapi juga memperkuat daya saing dan keberlanjutan bisnis di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
"Ini merupakan langkah strategis untuk memperluas gerakan inovasi keberlanjutan di Indonesia. Melalui ENSIA 2026, kami ingin menghadirkan ruang kolaborasi yang mampu mempercepat lahirnya solusi-solusi inovatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan keberlanjutan bisnis,” ucapnya.
Baca juga: PGE raih penghargaan ENSIA 2025 berkat inovasi berbasis panas bumi
Baca juga: PLN IP raih 16 penghargaan ajang ENSIA 2025
Menurutnya saat ini dunia usaha tidak lagi hanya dituntut untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus mampu menghasilkan dampak positif yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, inovasi menjadi kunci dalam menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, pelestarian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Melalui ENSIA 2026, tambah Sandry, pihaknya berharap semakin banyak perusahaan yang menunjukkan praktik-praktik terbaiknya dalam pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Inovasi yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, memperkuat ketahanan masyarakat, serta menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi dunia usaha,” tambahnya.
Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Franky Zamzani mengatakan perubahan iklim telah mempengaruhi berbagai sektor strategis, mulai dari pangan, sumber daya air, energi, kesehatan, hingga ekosistem.
Karena itu, penguatan kapasitas adaptasi menjadi bagian penting dalam pembangunan berkelanjutan.
Franky menegaskan pemerintah terus mendorong upaya adaptasi iklim yang terintegrasi, inklusif, dan berbasis ilmu pengetahuan untuk memperkuat ketahanan sosial, ekonomi, dan ekosistem.
Upaya tersebut dijalankan melalui berbagai program prioritas pada sektor pangan, sumber daya air, energi, kesehatan, dan ekosistem guna mengurangi risiko serta dampak perubahan iklim.
"Hal ini sejalan dengan pilar KLH, yaitu lima bidang prioritas adaptasi yang tertuang dalam Perpres Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional,” kata Franky.
Baca juga: KLH kejar adaptasi perubahan iklim di tapak hadapi potensi bencana
Baca juga: KLH serahkan anugerah ProKlim kepada desa yang lakukan aksi iklim
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andes Hamuraby Rozak menegaskan pentingnya riset dan inovasi dalam mendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Menurutnya, pengelolaan ekosistem yang berkelanjutan memerlukan pendekatan berbasis sains agar menghasilkan solusi yang terukur dan berdampak.
Andes menegaskan solusi berbasis alam (Nature-based Solutions) menjadi tren sebagai upaya perlindungan, pemanfaatan secara bijaksana, serta pemulihan ekosistem.
“Restorasi tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga mengintegrasikan aspek iklim, keanekaragaman hayati, dan masyarakat," jelasnya.
Ia mencontohkan restorasi lahan gambut yang dilakukan secara berkelanjutan dapat mendukung mitigasi perubahan iklim, pemulihan biodiversitas, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui dukungan ilmu pengetahuan, pemantauan berkelanjutan, dan partisipasi masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Senior Staff General Affairs & CSR PT Smelting, Rachmayani, menekankan pentingnya peran sektor usaha dalam mendukung pengendalian perubahan iklim melalui kolaborasi dengan masyarakat.
Menurutnya, dunia usaha dapat berkontribusi melalui berbagai program lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah, konservasi air, penghijauan, hingga pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
“Kolaborasi sektor usaha dan masyarakat menjadi kunci terciptanya masa depan yang berkelanjutan,” kata Rachmayani.
Baca juga: BRIN dorong langkah adaptasi dan mitigasi pangan tahan iklim ekstrem
Baca juga: KLH: Lakukan adaptasi perubahan iklim lebih awal di wilayah rentan
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.