Jakarta (ANTARA) - Menjelang tengah malam, telepon berdering dari seorang pejabat aparatur sipil negara (ASN) di Jakarta Utara. Salah seorang stafnya harus menjalani operasi esok hari dan membutuhkan darah.
Keesokan paginya, kantor Palang Merah Indonesia (PMI) dipenuhi wajah-wajah lelah, namun penuh tekad. Rekan kerja datang bergantian, seorang pimpinan kecamatan turut hadir, semua demi satu tujuan: menyelamatkan hidup.
Peristiwa seperti ini bukanlah hal yang luar biasa. Hampir setiap hari PMI menerima permintaan darah dari keluarga pasien yang sedang berjuang mempertahankan hidup. Kisah tersebut mengingatkan kita pada satu hal penting: di balik setiap kantong darah yang tersedia, selalu ada tindakan sukarela seseorang yang bersedia membantu orang lain.
Hal yang menarik, para pendonor sering kali tidak mengenal penerima darahnya. Setelah darah didonorkan, darah tersebut tidak langsung diberikan kepada pasien tertentu. Darah akan menjalani proses pemeriksaan, penyaringan, dan pemisahan menjadi berbagai komponen yang kemudian didistribusikan sesuai kebutuhan pasien. Dengan demikian, donor darah sesungguhnya bukan sekadar hubungan antara dua orang, yaitu pendonor dan penerima. Ia merupakan rantai kemanusiaan yang mempertemukan orang-orang yang tidak saling mengenal dalam sebuah gotong royong untuk menyelamatkan kehidupan.
Momentum Hari Donor Darah Sedunia yang diperingati setiap 14 Juni menjadi pengingat penting akan makna solidaritas tersebut. Di berbagai rumah sakit, darah dibutuhkan setiap hari untuk korban kecelakaan lalu lintas, pasien kanker, penderita talasemia, pasien gagal ginjal, maupun ibu yang mengalami komplikasi saat persalinan.
Persoalan darah Indonesia
Kebutuhan darah di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan kebutuhan darah ideal suatu negara sekitar dua persen dari jumlah penduduk. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang telah melampaui 280 juta jiwa, kebutuhan darah nasional diperkirakan mencapai sekitar 5,6 juta kantong per tahun.
Meski PMI dan berbagai unit transfusi darah di rumah sakit berhasil memenuhi sebagian besar kebutuhan tersebut, kekurangan stok darah masih terjadi di berbagai daerah. Persoalan tidak hanya berkaitan dengan jumlah pendonor, tetapi juga distribusi, akses transportasi, dan keterbatasan fasilitas penyimpanan darah, terutama di wilayah nonperkotaan.
Kondisi di Jakarta memberikan gambaran yang menarik. Data Unit Donor Darah PMI Provinsi DKI Jakarta tahun 2025 menunjukkan terdapat 367.067 pendonor sepanjang tahun atau rata-rata sekitar 30.589 pendonor setiap bulan. Namun, pada bulan Ramadhan, jumlah pendonor turun menjadi sekitar 20.712 orang. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan darah sangat bergantung pada partisipasi dan kesadaran masyarakat.
Di ibu kota, kebutuhan darah harian mencapai sekitar 1.200 kantong. Angka tersebut relatif dapat dipenuhi karena tingginya konsentrasi penduduk dan fasilitas kesehatan. Namun, situasi berbeda masih dijumpai di berbagai daerah yang jauh dari pusat layanan kesehatan. Di banyak wilayah nonperkotaan, pasien harus menunggu lebih lama untuk memperoleh darah karena keterbatasan stok dan distribusi.
Karena itu, persoalan darah tidak dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan medis. Ia juga merupakan persoalan sosial yang bergantung pada kesediaan masyarakat membantu sesamanya.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.