Jakarta (ANTARA) - Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan pada Sabtu bahwa negaranya tengah menghadapi pilihan "menentukan" antara monopoli senjata oleh negara atau tetap menjadi "sandera bagi logika milisi."
Pernyataan Aoun tersebut disampaikan dalam sebuah rilis untuk memperingati 48 tahun pembunuhan mantan menteri Lebanon, Tony Suleiman Frangieh, sebagaimana diunggah pihak kepresidenan melalui platform media sosial X.
"Peringatan yang menyakitkan ini datang di saat Lebanon hari ini berdiri di persimpangan jalan yang menentukan: apakah rakyatnya bersatu di bawah negara berdaulat yang memonopoli persenjataan, menegakkan supremasi hukum, dan melindungi warganya tanpa memandang afiliasi maupun jabatan, atau tetap menjadi sandera bagi logika milisi dan budaya eksklusi," tegas Aoun.
Sembari menyatakan bahwa persatuan nasional adalah "kebutuhan eksistensial," Presiden Lebanon tersebut berjanji untuk mengupayakan "Lebanon di mana rakyatnya hidup bebas dan setara—terikat bukan hanya oleh geografi, tetapi oleh kewarganegaraan sejati dan kepemilikan atas negara yang berlandaskan hukum dan keadilan."
Pernyataan tersebut muncul di tengah serangan Israel yang masih berlanjut ke Lebanon, meskipun gencatan senjata yang rapuh telah dimulai sejak 17 April dan beberapa putaran negosiasi yang disponsori Amerika Serikat antara Beirut dan Tel Aviv telah dilakukan di Washington.
Sumber: Anadolu
Baca juga: PBB: Situasi kemanusiaan di Lebanon selatan kian memburuk
Baca juga: Hizbullah klaim luncurkan 9 serangan ke posisi militer Israel
Baca juga: Iran: Agresi Israel ke Lebanon akan dibalas tegas
Penerjemah: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.