Pekanbaru, (ANTARA) - Riuh rendah suara sorak-sorai belum lagi terdengar di Sungai Kuantan, namun jauh di dalam rimbunnya hutan Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau, sebuah "ritual besar" terus dihidupkan demi melahirkan sebilah perahu jalur sepanjang 25 hingga 30 meter.

Bagi masyarakat setempat, perahu jalur ini bukan sekadar kendaraan kayu untuk berlomba, melainkan simbol marwah, harga diri kampung, dan perwujudan spiritualitas yang hidup sejak ratusan tahun lalu. Ada perjalanan panjang dalam melahirkan jalur.

Suatu tindakan selalu berawal dari musyawarah desa (rapek kampung) untuk menyatukan niat seluruh warga. Seperti yang dituturkan oleh Raja Muhammad Depria, Ketua Tim Jalur "Putri Anggun Sibiran Tulang" dari Desa Banjar Padang, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Sengingi.

Para tetua adat dan tokoh masyarakat, hingga pemuda, bermusyawarah dulu untuk keputusan besar membuat jalur baru pada akhir tahun 2023. Mereka ingin memiliki jalur baru untuk menambah kapasitas muatan dari buatan sebelumnya yang hanya memuat 51 pendayung menjadi 61 pendayung agar daya pacu di sungai semakin maksimal. Jalur adalah sebutan untuk perahu tradisional di daerah itu.

Berangkat dari rapat desa yang berlangsung alot selama dua jam, disepakati untuk kembali membuat jalur baru. Mereka memercayakan pekerjaan penuh amanah itu kepada yang ahli, yakni orang yang biasa mencari kayu di hutan.

Bersama sang ahli tersebut, tim desa melakukan survei langsung ke tiga lokasi berbeda di kecamatan tetangga, mulai dari kawasan konsesi PT Merauke, kawasan lindung Bukit Betabuh, hingga Bukit Tabandang.

Dalam dua hari mereka terus menyisir rimba untuk mencari pohon yang diinginkan untuk dijadikan jalur. Tidak ingin mengabaikan peran negara, sebelumnya, mereka sudah mengantongi izin dari dinas kehutanan setempat.

Pencarian berlabuh pada pohon kayu Marsawa yang ideal di Bukit Tabandang. Setelah disetujui dan sedikit ritual berterima kasih kepada alam, para pencari ini lalu menebangnya, kurang lebih 30 menit saja.

Setelah tumbang, ranting beserta daun ditebas dari pokok pohonnya, hingga menjadi gelondongan. Selanjutnya kayu itu ditarik menggunakan alat berat sampai ke jalan umum.

Jika tak ada alat berat, penarikan kayu tersebut dilakukan dengan ritual maelo jalur yang dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat. Setelah sampai di jalan umum, salah satu ujung kayu ditempatkan pada bagian belakang truk tronton, sedangkan bagian ujung lainnya diletakkan di atas dua roda, sehingga kendaraan itu akan terlihat begitu panjang.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.