Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimplementasikan riset untuk memperkuat ekosistem kopi di Magelang dalam rangka meningkatkan daya saing produk tersebut di pasaran.

Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat dan UMKM BRIN, Driszal Fryantoni mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pendampingan UMKM Berbasis Iptek (PUMI) dan BRIN Goes to Society sebagai bentuk hilirisasi hasil riset yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

"Inovasi tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui pengolahan, diversifikasi produk, dan penguatan daya saing usaha. Riset harus hadir sebagai solusi yang mampu meningkatkan produktivitas, kualitas produk, nilai tambah usaha, dan kesejahteraan masyarakat," katanya melalui keterangan di Jakarta, Senin.

Baca juga: Kabupaten Magelang miliki potensi besar pengembangan komoditas kopi

Driszal menjelaskan pihaknya menyerahkan bibit kopi unggul hasil riset kepada Pemerintah Kabupaten Magelang.

Pada aspek budi daya, lanjut dia, para peneliti BRIN menekankan pentingnya penerapan Good Agricultural Practices (GAP) untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kopi.

Peningkatan mutu kopi dinilai perlu didukung oleh pemilihan varietas yang sesuai dengan kondisi lahan, pengelolaan kebun yang tepat, teknik pemangkasan, serta pengendalian penyakit karat daun yang masih menjadi tantangan di sejumlah sentra produksi.

Selain itu, mutu kopi sangat ditentukan oleh kualitas buah yang dipanen. Karena itu, petani didorong meninggalkan praktik “petik pelangi” dan menerapkan pemetikan buah merah secara selektif untuk menghasilkan biji kopi yang lebih seragam dan memenuhi standar pasar.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Proses Pangan BRIN, Nendyo Adhi Wibowo memperkenalkan berbagai inovasi pengolahan kopi, termasuk pemanfaatan kulit buah kopi (cascara) yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

"Melalui teknologi pengolahan yang tepat, cascara dapat diolah menjadi produk pangan bernilai tambah, seperti cascara tea, kopi herbal, dan minuman fermentasi. Salah satunya adalah kopi Binturong yang berbeda dengan kopi Luwak.

Binturong melepehkan biji kopi dengan cara berbeda dari luwak, meskipun keduanya menghasilkan biji kopi yang sama-sama telah mengalami proses fermentasi," ungkap Nendyo.

Sementara itu, Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyampaikan bahwa kopi telah menjadi bagian penting dari perekonomian daerah sejak lama.

Baca juga: Puluhan pelaku usaha kopi Magelang ikuti kontes adu rasa

Baca juga: Magelang lestarikan lereng gunung dengan komoditas kopi

Oleh karena itu, pengembangannya perlu didukung dengan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi agar produktivitas serta kesejahteraan petani dapat terus meningkat.

"Investasi pada riset mungkin belum menjadi program yang paling populer, namun hasil riset dan inovasi dapat menghasilkan dampak nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Pemerintah Kabupaten Magelang berkomitmen menjadikan ilmu pengetahuan dan inovasi sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah," ucap Grengseng Pamuji.

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.