Jakarta (ANTARA) - Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan produk jamu, sebagai kekayaan intelektual berbasis warisan bangsa, berpotensi menciptakan nilai tambah ekonomi dan memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.

"Jamu harus terus berkembang melalui penguatan brand, IP, dan hak kekayaan intelektualnya, sehingga memiliki nilai tambah dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi seluruh ekosistemnya," ujarnya dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin.

Menteri Ekraf mengatakan jamu kini tidak lagi dipandang sebatas minuman herbal tradisional, namun telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern dan hadir dalam berbagai ruang ekonomi kreatif, mulai dari kafe, hotel, pusat perbelanjaan, hingga destinasi wisata berbasis wellness.

Perubahan tren gaya hidup sehat ini membuka peluang besar bagi produk-produk berbasis jamu untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Riefky mengatakan diperlukan penguatan storytelling, branding, promosi, networking, akses pasar, dan pendanaan yang penting untuk mendorong pelaku usaha jamu meningkatkan daya saing sekaligus memperluas jangkauan hingga ke tingkat internasional.

"Indonesia memiliki potensi besar menjadi pusat wellness dunia. Kita memiliki tradisi jamu yang kuat, kekayaan rempah yang melimpah, dan budaya kesehatan yang masih hidup hingga sekarang. Tantangannya adalah bagaimana mengemas potensi tersebut secara profesional melalui kolaborasi yang melibatkan pelaku usaha, akademisi, media, asosiasi, dan institusi keuangan agar mampu bersaing di pasar global," katanya.

Menteri Ekraf menilai Indonesia memiliki modal kuat menjadi salah satu pusat industri wellness dunia dengan modal kekayaan rempah-rempah, tradisi pengobatan berbasis herbal, serta budaya menjaga kesehatan yang diwariskan lintas generasi yang dapat dijadikan sebagai fondasi.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Kementerian Ekraf terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan subsektor berbasis wellness dengan Dewan Jamu Indonesia dalam penyelenggaraan Jamu International Conference and Expo (JICE) 2026 yang akan berlangsung pada Oktober mendatang.

Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan ekspor, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, sekaligus memperbesar kontribusi ekonomi kreatif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah.

Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas promosi jamu Indonesia sekaligus memperkuat posisinya di pasar global.

Baca juga: Kemenekraf sebut platform digital perluas akses pasar pelaku ekraf

Baca juga: KI dan "storytelling" dinilai jadi nilai tambah untuk kembangkan ekraf

Baca juga: Menteri Riefky: Ekraf jadi peluang ekonomi di tengah melemahnya rupiah

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.