Bagi banyak tim, gelar juara merupakan akhir dari sebuah perjalanan. Bagi Knicks, trofi ini justru menjadi bukti bahwa arah yang mereka pilih dalam beberapa tahun terakhir memang sudah tepat.
Jakarta (ANTARA) - Ketika New York Knicks memastikan kemenangan 94-90 atas San Antonio Spurs pada gim kelima Final NBA 2026, media mengarahkan sorotan pada penantian 53 tahun yang akhirnya terwujud kembali.
Selama 53 tahun, Knicks tidak pernah lagi menjadi juara NBA sejak terakhir kali mengangkat trofi pada 1973. Dalam rentang waktu tersebut, klub ini mengalami berbagai fase, mulai dari era kompetitif pada 1990-an, kegagalan panjang pada awal 2000-an, hingga beberapa kali pergantian arah yang tidak membuahkan hasil.
Karena itu, keberhasilan musim ini tidak dapat dipandang hanya sebagai kemenangan dalam satu seri final. Gelar juara tersebut merupakan puncak dari proses pembangunan tim yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
Jalen Brunson menjadi tokoh utama dalam momen tersebut. Ia mencetak 45 poin pada laga penutup Final NBA, rekor tertinggi pemain Knicks dalam sejarah final NBA. Penampilan itu juga menyamai catatan Michael Jordan untuk jumlah poin terbanyak dalam laga penutup Final NBA yang dimainkan di kandang lawan.
Meski demikian, menceritakan capaian gelar juara Knicks hanya melalui performa Brunson akan membuat gambaran yang muncul menjadi terlalu sederhana. Keberhasilan New York musim ini dibangun oleh kombinasi antara kualitas pemain inti, kedalaman skuad, serta perubahan pendekatan yang diterapkan pelatih kepala Mike Brown.
Musim reguler sebenarnya tidak langsung menempatkan Knicks sebagai kandidat utama juara. Mereka menutup kompetisi dengan rekor 53 kemenangan dan 29 kekalahan, finis di posisi ketiga Wilayah Timur di belakang Detroit Pistons dan Boston Celtics. Catatan tersebut memang merupakan yang terbaik bagi Knicks dalam lebih dari satu dekade, tetapi belum cukup untuk menjadikan mereka tim paling difavoritkan untuk mengangkat trofi.
Yang membedakan Knicks musim ini adalah konsistensi mereka dalam membangun identitas permainan.
Brunson kembali menjadi motor serangan dengan rata-rata 26 poin dan 6,8 assist per pertandingan. Pemain center Karl-Anthony Towns memberikan kontribusi penting melalui rata-rata 20,1 poin dan 11,9 rebound. Namun kekuatan Knicks tidak hanya bergantung pada dua pemain tersebut.
Mike Brown memanfaatkan kedalaman roster lebih baik dibanding musim-musim sebelumnya. Pemain seperti Miles McBride, Mitchell Robinson, Landry Shamet, Jordan Clarkson, dan Jose Alvarado memberi fleksibilitas yang lebih besar dalam rotasi. Dalam kompetisi sepanjang musim dan playoff yang menguras energi, faktor tersebut terbukti menjadi salah satu keunggulan utama New York.
Salah satu indikasi awal bahwa Knicks memiliki kapasitas untuk bersaing hingga akhir musim muncul pada ajang NBA Cup 2025. Dalam turnamen tersebut, mereka mengalahkan San Antonio Spurs di partai final dan Brunson terpilih sebagai MVP.
Secara teknis, trofi NBA Cup yang baru kompetisinya dipertandingkan beberapa musim belakangan tidak memiliki bobot yang sama dengan gelar NBA. Namun kemenangan itu memberi Knicks pengalaman menghadapi Spurs dalam pertandingan bertekanan tinggi. Ketika kedua tim kembali bertemu di Final NBA sesungguhnya, New York sudah memiliki referensi mengenai bagaimana menghadapi sistem permainan yang dibangun di sekitar tim yang kebanyakan bertumpu pada Victor Wembanyama.
Baca juga: Knicks juara NBA 2026 usai penantian 53 tahun
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.