Perubahan penting yang harus dicermati adalah ekspektasi besaran dan frekuensi pelonggaran moneter yang dalam satu bulan terakhir berubah cukup signifikan

Jakarta (ANTARA) - Analis dari PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Caroline Rusli menilai meningkatnya ketidakpastian global membuat investor perlu lebih mengedepankan pendekatan berbasis fundamental dalam mengambil keputusan investasi.

Sebab, lanjutnya, perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter global dalam beberapa bulan terakhir telah memicu peningkatan volatilitas di pasar keuangan dan mendorong investor menjadi lebih selektif dalam menempatkan dana.

“Perubahan penting yang harus dicermati adalah ekspektasi besaran dan frekuensi pelonggaran moneter yang dalam satu bulan terakhir berubah cukup signifikan,” kata Caroline dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Pada Desember 2025, pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan memangkas suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) sebesar 50 basis poin (bps) sepanjang 2026. Namun sejak Mei lalu, ekspektasi tersebut berbalik menjadi potensi kenaikan suku bunga sekitar 20 bps.

Kondisi serupa juga terjadi di Indonesia. Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps pada Mei 2026, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 25 bps, kemudian kembali menaikkannya 25 bps pada awal Juni.

Menurut Caroline, kombinasi pengetatan moneter, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi, pelemahan nilai tukar rupiah, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, serta sejumlah penilaian lembaga asing terhadap pasar Indonesia telah mempengaruhi selera investor terhadap aset berisiko.

Di tengah kondisi tersebut, ia menilai strategi investasi berbasis fundamental menjadi semakin penting dibandingkan sekadar mempertimbangkan valuasi yang murah.

Caroline mengatakan pasar saham Indonesia saat ini sebenarnya masih menawarkan valuasi yang menarik. Namun, valuasi yang rendah belum cukup untuk mendorong arus masuk dana secara signifikan apabila belum diikuti peningkatan kepercayaan investor terhadap arah kebijakan dan munculnya katalis jangka pendek yang jelas.

“Indonesia saat ini berada pada fase selective value. Karena itu, strategi defensif dan identifikasi saham melalui pendekatan bottom-up pada sektor serta emiten pilihan menjadi sangat krusial,” ujarnya.

Ia menambahkan kondisi saat ini juga memberikan gambaran lebih jelas mengenai kawasan, mata uang, dan kelas aset yang relatif lebih tahan terhadap gejolak global ketika likuiditas dunia tidak lagi seakomodatif beberapa tahun terakhir.

Dalam konteks tersebut, Caroline memandang pasar yang memiliki prospek pertumbuhan struktural dan didukung pertumbuhan laba perusahaan yang kuat akan lebih mampu bertahan di tengah ketidakpastian global.

Salah satu kawasan yang dinilai masih menarik adalah Asia Utara yang mendapatkan manfaat langsung dari perkembangan industri kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), semikonduktor, dan investasi teknologi global.

Menurut dia, peningkatan belanja modal perusahaan teknologi raksasa dunia atau hyperscalers seperti Amazon, Google, Meta, dan Microsoft berpotensi memberikan dampak positif bagi rantai pasok teknologi di Asia.

“Ketika perusahaan-perusahaan teknologi terbesar dunia terus menaikkan belanja modal, dampaknya akan lebih dulu terlihat pada rantai pasok Asia, terutama sektor semikonduktor, komponen elektronik, material canggih, dan infrastruktur terkait daya,” kata Caroline.

Daya tarik pasar Asia saat ini tidak hanya didukung oleh faktor valuasi, tetapi juga oleh pertumbuhan laba perusahaan yang memiliki katalis struktural jangka panjang.

"Karena itu, kami melihat kekuatan Asia bukan sekadar faktor valuasi murah, tetapi didukung oleh pertumbuhan laba yang memiliki katalis struktural," jelas dia.

Baca juga: Analis: Kenaikan suku bunga global tak goyahkan daya tarik pasar Asia

Baca juga: BI: Modal asing ke SRBI dan SBN capai Rp19,02 T pascakenaikan BI-Rate

Baca juga: Bank Mandiri: Penyesuaian suku bunga akan mengacu kondisi pasar

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.