Jakarta (ANTARA) - Upaya banyak negara untuk berlomba menjadi tuan rumah pertandingan olahraga sepertinya tidak melulu mengejar gengsi, tapi justru efek ganda dari sisi ekonomi yang dicari.
Contoh kecilnya saja, ketika sebuah pertandingan olahraga final berlangsung, perhatian tidak melulu tertuju pada skor, strategi, dan siapa yang akhirnya mengangkat trofi.
Seiring dengan itu sering kali ada kisah lain yang berjalan di pinggir arena, tidak masuk dalam statistik pertandingan, tetapi justru menyentuh sisi paling mendasar dari kehidupan manusia.
Kisah tentang orang-orang yang bekerja diam-diam demi keluarganya atau harapan yang tidak lahir dari kemenangan sebuah tim, melainkan dari dagangan yang habis terjual. Kisah tentang perjuangan yang tidak berlangsung selama dua babak pertandingan, tetapi bertahun-tahun lamanya.
Ada satu momen, misalnya, Final Pro Futsal League (PFL) 2026 di GOR Universitas Negeri Yogyakarta menjadi gambaran utuh tentang betapa sebuah pertandingan mampu menggerakkan denyut ekonomi suatu wilayah.
Di tengah sekitar 5.400 penonton yang memenuhi arena dan menikmati pertandingan, ada para pengusaha ultra mikro yang ikut merasakan manfaat dari keramaian tersebut.
Mereka tidak mengenakan seragam tim, tidak berdiri di tengah lapangan, dan tidak menjadi pusat perhatian. Namun, keberadaan mereka menyimpan makna yang tidak kalah penting.
Iin Sutiyani, pedagang makanan kecil di Yogyakarta, telah selama 18 tahun, menjalani hari-harinya dengan membuat dan menjual pempek, makanan khas Palembang yang diwariskan dari resep keluarga.
Apa yang dijalankannya mungkin terlihat sederhana. Tidak ada papan nama besar, tidak ada jaringan cabang, dan tidak ada promosi yang ramai di media sosial. Yang ada hanyalah ketekunan yang diulang setiap hari selama hampir dua dekade.
Bagi sebagian orang, pempek mungkin sekadar makanan. Namun, bagi Iin, pempek adalah alasan dapur tetap mengepul. Pempek adalah biaya sekolah anak. Pempek adalah kebutuhan sehari-hari keluarga. Pempek juga menjadi penopang, ketika kehidupan sedang menguji ketahanan mereka.
Ketika kondisi kesehatan suaminya memburuk akibat sakit, usaha kecil itulah yang menjadi sandaran utama keluarga. Tidak semua orang mampu memahami beratnya posisi tersebut.
Ada tagihan yang harus dibayar, kebutuhan rumah tangga yang tidak pernah berhenti, dan kekhawatiran yang datang silih berganti. Namun, seperti jutaan perempuan Indonesia lainnya, Iin memilih terus melangkah.Ia tidak memiliki kemewahan untuk menyerah. Setiap pagi tetap harus dimulai. Adonan tetap harus dibuat. Dagangan tetap harus dijual.
Dalam banyak keluarga Indonesia, perjuangan seperti ini berlangsung setiap hari, tanpa banyak diketahui orang. Tidak ada kamera yang merekam. Apalagi tepuk tangan yang mengiringi.
Namun, justru dari perjuangan-perjuangan kecil itulah ketahanan ekonomi masyarakat sesungguhnya dibangun.
Menggerakkan ekonomi
Kesempatan berjualan di Final PFL 2026 menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi diri pengusaha ultra mikro seperti Iin.
Di tengah ribuan penonton yang datang untuk menyaksikan pertandingan, dagangan pempeknya laris terjual. Dalam satu hari, penjualannya meningkat berkali-kali lipat dibandingkan hari biasa.
Bagi sebagian orang, tambahan pendapatan itu mungkin terlihat biasa saja. Namun, bagi keluarga yang mengandalkan usaha kecil sebagai sumber nafkah utama, tambahan penghasilan dapat berarti banyak hal.
Ia dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Hal itu dapat digunakan untuk pengobatan suami, juga menjadi ruang bernapas yang sedikit lebih lega di tengah berbagai tanggung jawab yang harus ditanggung.
Hal yang paling terasa dari kisah tersebut bukanlah angka penjualannya, melainkan rasa syukur yang menyertainya.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.