Yang lucu adalah jika dalam seremoni itu Lamine Yamal yang pro Palestina, membawa atau mengenakan simbol-simbol Palestina, berada di samping Trump yang sangat pro Israel.

Jakarta (ANTARA) - Pelatih timnas Iran Amir Ghalenoei dongkol setelah timnya dipaksa segera meninggalkan bumi Amerika Serikat begitu laga berkesudahan 2-2 melawan Selandia Baru usai.

Ghalenoei ingin timnya diizinkan menginap dulu barang beberapa jam sebelum kembali ke Tijuana di Meksiko agar kondisi fisik para pemain kembali bugar.

Skuad Iran tiba di AS Minggu pukul 16.00, dan menjalani pertandingan keesokan harinya pada pukul 18.00. Tapi segera setelah laga itu usai pihak berwajib di AS meminta mereka segera hengkang malam itu juga.

Tak heran Ghalenoei sampai menilai timnya adalah tim yang paling dizolimi.

Kapten timnas Iran, Mehdi Taremi, mengamini suara hati pelatihnya.

"Ini tidak baik untuk sepak bola karena dalam Piala Dunia, kita harus menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi pertandingan berikutnya," kata Taremi seperti dikutip BBC.

Menurut Taremi, timnas Iran tak bisa didampingi staf pendukung skuad karena AS menolak memberikan visa kepada mereka.

Taremi menjelaskan ini semua dengan tenang dan malah diselipi senyum kecut yang melukiskan ketabahan orang Iran dalam menghadapi masalah.

Iran akan kembali ke Los Angeles untuk melawan Belgia pada 21 Juni jam 12 siang, dan kemudian ke Seattle di negara bagian Washington, untuk laga terakhir Grup G melawan Mesir pada 27 Juni, pukul 8 malam.

Seandainya Iran lolos ke fase gugur, maka mereka akan bertanding di Seattle lagi jika menjuarai Grup G, di Arlington jika menjadi runner up Grup, dan East Rutherford jika menjadi peringkat ketiga terbaik.

Jarak Tijuana-Seattle adalah 2.049 km, Tijuana-Arlington 2.174 km, dan Tijuana-East Rutheford 4.459 km.

Bayangkan jika Iran lolos ke babak knockout, betapa lelah pemain-pemain Iran karena harus 24 jam bolak balik mencapai dan meninggalkan kota-kota itu, apalagi Rutheford yang setara jarak Jakarta ke Biak di Papua.

Iran juga mengeluhkan jatah tiket Piala Dunia untuknya yang dibatalkan satu malam sebelum kickoff Piala Dunia 2026.

Mereka mendesak FIFA agar menegakkan prinsip netralitas dan keadilan. Tapi FIFA tak bisa berbuat apa-apa, dengan alasan tak ingin mencampuri kewenangan pemerintah AS.

Rangkaian kejadian ini bertolak belakang dengan tekad FIFA yang ingin menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai Piala Dunia paling inklusif dan paling menyatukan umat manusia.

Baca juga: Gianni Infantino lega Iran berlaga di Piala Dunia 2026

Baca juga: Pemerintahan Trump harapkan tim Iran hadiri Piala Dunia di AS

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.