Kehadiran MRO menciptakan multiplier effect bagi kawasan Kertajati dan sekitarnya. Aktivitas tersebut dapat mendorong pertumbuhan sektor jasa, perhotelan, transportasi, perdagangan, hingga menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal
Jakarta (ANTARA) - Analis dan Pemerhati Pertahanan Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (Keris) Hanif Rahadian menilai pembangunan pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) pesawat Hercules C-130 se Asia di Bandara Kertajati, Jawa Barat memberikan dampak baik yang berlipat untuk Indonesia.
Rentetan dampak baik itu mulai dari potensi kemandirian alat utama sistem senjata (alutsista) dalam negeri, penguatan industri pertahanan (inhan) dalam negeri hingga perputaran ekonomi dari skala kecil ke besar.
Hanif menjelaskan, keuntungan pertama yang akan diterima Indonesia yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia karena akan terlibat dalam pemeliharaan Hercules.
Baca juga: TNI AU dukung pengembangan Bandara Kertajati jadi MRO pesawat
"Kita berpotensi memperoleh transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan, sertifikasi, serta keterlibatan teknisi dan engineer nasional dalam proses pemeliharaan armada Hercules sesuai standar pabrikan," kata Hanif saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.
Dengan demikian, kata Hanif, para teknisi dalam negeri ini mempunyai ilmu dan keterampilan perawatan pesawat yang mendalam sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan industri dirgantara dalam negeri.
Keuntungan ke dua, lanjut dia, yakni kehadiran MRO membuka kesempatan inhan dalam negeri baik itu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau swasta untuk menjadi pemasok kebutuhan alat-alat pendukung Hercules.
Kondisi ini dinilai dapat membangkitkan eksistensi inhan dalam negeri karena MRO membutuhkan alat-alat pendukung dalam jumlah banyak, mengingat MRO ini akan jadi pusat perawatan Hercules se Asia.
Tidak hanya keuntungan ekonomis saja, Inhan dalam negeri juga dapat menjadikan kesempatan ini sebagai ajang transfer teknologi guna memperkuat kualitas produk-produk alutsista buatan Indonesia.
Selain itu, kehadiran MRO juga dinilai akan membangkitkan perekonomian lokal di sekitar bandara Kertajati yang berlokasi di Majalengka itu.
Baca juga: Pemkab Majalengka dukung pengembangan MRO di BIJB Kertajati
"Kehadiran MRO menciptakan multiplier effect bagi kawasan Kertajati dan sekitarnya. Aktivitas tersebut dapat mendorong pertumbuhan sektor jasa, perhotelan, transportasi, perdagangan, hingga menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal," jelas dia.
Keuntungan terakhir, Indonesia sebagai pengguna aktif pesawat Hercules C-130 juga akan lebih mudah dalam melakukan perawatan pesawat.
"Kehadiran fasilitas MRO di negara sendiri akan membuat upaya pemeliharaan akan lebih efektif dan efisien," jelas dia.
Namun demikian, Hanif menekankan seluruh keuntungan itu tidak serta merta bisa dinikmati Indonesia.
Pemerintah terlebih dahulu harus mempersiapkan segala sesuatu dengan matang dari mulai fasilitas MRO, hanggar yang memenuhi standar, bandara yang memenuhi standar hingga SDM yang berkualitas.
Dengan persiapan tersebut, Hanif yakin MRO di Kertajati akan beroperasi dengan maksimal.
Baca juga: Kemhan sebut pembangunan MRO Hercules masih dalam tahap perencanaan
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyebut pembangunan pusat MRO pesawat C-130 Hercules se Asia di Bandara Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat masih dalam tahap perencanaan.
Hal tersebut menegaskan bahwa belum ada tenggat waktu kapan pembangunan MRO itu akan dimulai.
"Pada prinsipnya, pemerintah masih berada pada tahap perencanaan dan pematangan konsep terkait pengembangan ekosistem kedirgantaraan nasional di kawasan Kertajati, termasuk pengembangan fasilitas MRO untuk kebutuhan komersial maupun militer secara bertahap," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Selasa (26/5).
Rico mengatakan Kemhan harus mempertimbangkan banyak hal sebelum memulai proses pembangunan MRO, seperti teknis perjanjian kerja samanya, teknis pembangunan fasilitas MRO hingga model pengelolaan MRO yang akan dipakai.
Seluruh aspek tersebut, lanjut Rico, harus dipertimbangkan demi memastikan pengoperasian MRO selaras dengan kepentingan nasional.
Selain itu, pembangunan dan pengoperasian MRO itu juga harus melibatkan peran industri pertahanan dalam negeri.
Baca juga: Pemerintah berencana bangun MRO pesawat Hercules di Bandara Kertajati
Pewarta: Walda Marison
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.