Bahwa pembangunan kota modern tidak hanya diukur dari seberapa cepat beton terpasang atau saluran air mengalir, tetapi juga dari seberapa kecil risiko yang ditinggalkan di ruang publik selama proses itu berlangsung.
Surabaya (ANTARA) - Di tengah riuh lalu lintas Kota Surabaya, Jawa Timur, yang tak pernah benar-benar tidur, jalan-jalan yang dibuka untuk proyek infrastruktur kerap menjadi pemandangan yang tak terhindarkan.
Lubang besar, beton precast box culvert yang belum terpasang, serta pembatas jalan yang berdiri setengah hati, menjadi penanda bahwa kota sedang bekerja keras mengejar satu tujuan besar, yakni mengurangi genangan dan banjir yang saban musim hujan masih menghantui sebagian kawasan.
Namun di balik upaya teknis itu, Surabaya baru saja menghadapi titik balik penting. Seorang warga lanjut usia meninggal dunia akibat kecelakaan di area proyek saluran air Margorejo, depan salah satu pusat aktivitas kota.
Peristiwa ini memicu langkah cepat Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang memutuskan penghentian sementara seluruh aktivitas pengerukan proyek box culvert di jalan-jalan kota untuk dilakukan evaluasi menyeluruh.
Keputusan itu tidak sekadar respons administratif. Ia mencerminkan kegentingan yang lebih dalam, bahwa pembangunan fisik tidak bisa dilepaskan dari keselamatan warga yang melintasinya setiap hari. Evaluasi total kemudian diarahkan pada pola pengerjaan, sistem pengamanan, hingga kedisiplinan kontraktor dalam menerapkan standar kerja di lapangan.
Box culvert sendiri merupakan bagian dari strategi besar drainase perkotaan modern. Struktur beton berbentuk kotak ini berfungsi memperlancar aliran air di bawah jalan. Di banyak kota besar dunia, sistem ini menjadi tulang punggung pengendalian banjir.
Namun dalam praktiknya, fase konstruksi kerap menjadi titik paling rawan, ketika jalan dibuka, arus lalu lintas tetap berjalan, dan ruang kerja proyek berdampingan langsung dengan aktivitas warga.
Dalam kasus Surabaya, temuan awal menunjukkan adanya celah pada pembatas proyek yang seharusnya menjadi penghalang keselamatan. Situasi ini memperlihatkan bahwa persoalan bukan hanya pada desain infrastruktur, tetapi pada disiplin implementasi di lapangan.
Baca juga: DPRD Surabaya minta Pemkot bongkar gorong-gorong tak sesuai spek
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.