Aida yang selama di pesantren menjadi bintang karena prestasi dan wajah cantiknya, tidak memiliki nilai apa-apa di lingkungan keluarganya. Ia hanya menjadi semacam objek untuk dicetak menjadi sesuatu oleh Halimah, kakak, sekaligus pengganti orang tua
Surabaya (ANTARA) - Kisah cinta antara Mahiru (ustaz di pesantren) dengan Aida (salah satu santriwati brilian dan cerdas), yang berakhir pada "menangnya" relasi kuasa di budaya pesantren dalam satu cerita fiksi, tidak menjadikan martabat lembaga pendidikan berbasis agama Islam tersebut runtuh.
Mohammad Hairul, seorang guru yang juga penggerak literasi nasional, mampu mengemas kisah romantis yang menghadapkan seorang ustaz "bertarung" dengan seorang gus --sebutan hormat untuk anak atau keluarga kiai-- dalam novel berjudul "Novel Bersampul Batik" ini, tidak terjebak dalam narasi menyudutkan, apalagi menghina dunia pesantren.
Novel ini memperkuat keyakinan bahwa pesantren adalah sumur tanpa dasar, menyimpan mozaik kekayaan yang siap digali menjadi rangkaian cerita dalam karya-karya kreatif.
Kisah dalam novel romantis ini merupakan gambaran manusiawi tentang keluarga kiai dan santri, termasuk ustaz, dalam menapaki alur karunia cinta yang dimiliki oleh semua orang, termasuk mereka yang hidup di dalam pesantren.
Kisah yang mengaduk-aduk emosi pembaca ini dimulai dengan alur mundur, ketika tokoh utama Aida yang menjalin kasih dengan sang ustad Mahiru Khair yang berlatar belakang pendidikan sastra, bertugas menggantikan seorang ustazah karena cuti. Kisah dimulai ketika Aida sudah menikah dengan Gus Haikal, keluarga pesantren.
Aida yang menikah dengan Gus Haikal karena menuruti tekanan kakaknya, Halimah, menyimpan rasa cintanya kepada Mahiru dengan cara mengoleksi buku-buku, berupa novel atau kumpulan cerpen karya sang ustaz dalam balutan batik.
Sang gus yang digambarkan sebagai lelaki yang hanya memiliki sampul, sementara hakikat cinta Aida tetap dimiliki Mahiru, suatu hari memergoki istrinya di ruang perpustakaan pribadi sedang membungkus buku dengan kain batik.
Pada perjalanan hidup bersama keluarga pesantren tempat ia menimba ilmu itu, Aida menjadi sadar bahwa batik-batik itu bukan sampul bagi buku. Batik-batik itu menjelma menjadi perban atas luka-luka batinnya harus terpisah dengan pujaan hatinya. Sampul pada luka-luka yang menolak untuk sembuh.
Cerita tentang cinta yang tak sampai itu dikuak oleh Hairul pada momen ketika Gus Haikal mengalah, dan bersedia mengantarkan istrinya, Aida, menghadiri peluncuran buku terbaru karya Mahiru. Bukan mengalah, tapi Gus Haikal yang memaksa Aida untuk menghadiri undangan VIP untuk pasangan tersebut.
Baca juga: Santri dan sastra
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.