Tantangannya adalah bagaimana membangun ekosistem pangan modern yang mampu menjawab kebutuhan kota besar
Surabaya (ANTARA) - Di meja makan, sepotong daging sapi sering hadir tanpa cerita. Publik jarang membayangkan perjalanan panjang yang dilalui sebelum daging itu sampai ke pasar tradisional, restoran, atau dapur rumah tangga. Padahal, di balik setiap kilogram daging terdapat rantai pasok yang bergantung pada satu simpul penting yang kerap luput dari perhatian, yakni rumah potong hewan.
Di Kota Surabaya, Jawa Timur, simpul itu tengah memasuki babak baru. Sejak 1 Juni 2026, aktivitas pemotongan sapi yang sebelumnya berlangsung di Pegirian berpindah ke Rumah Potong Hewan (RPH) Tambak Osowilangun. Perpindahan ini bukan sekadar relokasi fisik. Ia mencerminkan upaya modernisasi layanan pangan kota yang semakin kompleks.
Langkah tersebut sejalan dengan kebutuhan kota metropolitan yang terus bertumbuh. Surabaya dengan jumlah penduduk lebih dari tiga juta jiwa membutuhkan sistem penyediaan pangan yang tidak hanya mampu menjamin pasokan, tetapi juga memenuhi standar kesehatan, keamanan, dan kehalalan yang semakin ketat.
Namun seperti banyak proyek transformasi, fase awal tidak selalu berjalan mulus. Di Tambak Osowilangun, sejumlah persoalan teknis masih muncul. Ketersediaan air bersih menjadi tantangan utama. Kebutuhan operasional mencapai sekitar 50 ribu liter per hari, sementara pasokan yang tersedia masih jauh dari ideal.
Persoalan lain menyangkut elevasi lantai pemotongan yang menyebabkan genangan darah, hingga sistem rel gantung pemindah karkas yang masih mengalami kendala operasional.
Sekilas, masalah tersebut tampak teknis dan administratif. Akan tetapi, bila ditelaah lebih jauh, persoalan itu menyentuh isu yang lebih besar, yakni kesiapan infrastruktur pangan perkotaan menghadapi tuntutan masa depan.
Di banyak negara maju, rumah potong hewan tidak lagi dipandang sekadar fasilitas pemotongan. Ia merupakan bagian dari sistem ketahanan pangan yang menentukan kualitas produk hewani, efisiensi distribusi, pengendalian penyakit, hingga stabilitas harga pangan.
Karena itu, tantangan yang dihadapi RPH Surabaya sesungguhnya bukan hanya soal air, rel, atau saluran drainase. Tantangannya adalah bagaimana membangun ekosistem pangan modern yang mampu menjawab kebutuhan kota besar.

Simpul pangan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.