Banyak ayah yang hari ini gagal hadir, sesungguhnya juga pernah dibesarkan dalam lingkungan yang miskin kedekatan emosional
Jakarta (ANTARA) - Sekitar 22,9 juta anak tumbuh dalam kondisi fatherless, suatu keadaan di mana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran ayah yang utuh.
Angka itu terdengar besar, tetapi masih terasa abstrak. Kita mudah menganggapnya sebagai kumpulan masalah rumah tangga yang berdiri sendiri-sendiri, sebagai urusan pribadi yang selesai di balik pintu rumah masing-masing, dan seharusnya tidak dicampuri oleh orang lain. Padahal dampaknya bukan cuma ada di dalam rumah.
Ketidakhadiran ayah dalam konteks fatherless bukan selalu berarti anak yatim. Fatherless adalah kondisi anak yang tidak merasakan pendampingan, kedekatan, kehadiran, pendidikan dari seorang ayah meski sosoknya ada dalam satu rumah yang sama.
Data terbaru dari Pendataan Keluarga 2025 Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), satu dari empat anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah.
Posisi itu membuat cerita personal bagi banyak anak, tapi lebih besar lagi, membentuk pola sosial. Sebuah generasi sedang dibesarkan dengan pengalaman emosional yang serupa, lalu membawa pengalaman itu ke sekolah, tempat kerja, hubungan pernikahan, hingga cara mereka membesarkan anak-anak mereka sendiri kelak.
Dalam jangka panjang, dari perkara yang tampak sebagai persoalan pribadi keluarga di masa sekarang, bisa berubah menjadi wajah masyarakat yang dibentuk oleh anak-anak yang tumbuh dengan kekosongan itu di masa depan.
Tidak semua ayah yang tidak hadir itu pergi meninggalkan rumah. Ada para ayah yang setiap malam pulang ke alamat yang sama, berkehidupan di rumah yang sama, tetapi hatinya telah lama berada di tempat lain. Sebagian tenggelam dalam pekerjaan yang tidak pernah selesai, mengejar angka demi angka tanpa menyadari bahwa anak-anaknya sedang tumbuh tanpa dirinya.
Sebagian larut dalam kelelahan hidup, terlalu letih dalam pekerjaan, dan menganggap tugas mengasuh anak adalah amanah ibu seorang. Ada pula yang hadir secara fisik, tetapi begitu sibuk dengan layar, urusan, atau dunianya sendiri, sampai-sampai melewatkan obrolan basa-basi dengan anak, apalagi tentang bagaimana seharusnya hidup diusahakan.
Yang paling menyedihkan, sering kali itu semua itu terjadi perlahan, tanpa disadari. Sama sekali tidak ada pertengkaran besar di rumah dengan pintu yang dibanting keras. Hanya saja, ada jarak yang bertambah sedikit demi sedikit setiap hari dari hubungan ayah-anak ini. Sampai akhirnya seorang anak sudah terbiasa hidup dengan sosok ayah ada di rumah, tetapi sangat-sangat jauh dirasakan.
Di bawah atap yang sama, mereka tumbuh seperti orang asing yang saling mengenal nama, namun tidak memahami satu sama lain.
Luka semacam itu jarang berhenti pada satu generasi. Banyak ayah yang hari ini gagal hadir, sesungguhnya juga pernah dibesarkan dalam lingkungan yang miskin kedekatan emosional. Mereka mengenal tanggung jawab sebagai kewajiban memberi nafkah, tetapi tidak pernah belajar bagaimana menunjukkan kasih sayang.
Mereka diajarkan menjadi kuat, tetapi tidak pernah diajarkan cara mengungkapkan rasa sayang kepada anak. Akibatnya, pola yang sama bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya seperti warisan yang tidak pernah dicatat dalam dokumen keluarga.
Yang kemudian, fatherless berubah dari sebatas persoalan keluarga, menjadi persoalan peradaban.
Kehilangan contoh
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.