Jumlah rumah rusak itu terus bertambah dengan rincian rusak berat 212 unit, rusak sedang 596 unit, dan rusak ringan 1.927 unit

Sigi (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), mencatat hingga hari ke-7 pascagempa bumi di daerah itu total rumah rusak mencapai 2.735 unit.

"Jumlah rumah rusak itu terus bertambah dengan rincian rusak berat 212 unit, rusak sedang 596 unit, dan rusak ringan 1.927 unit," kata Komandan Satgas Tanggap Darurat Samuel Yansen Pongi saat ditemui di Dolo, Senin.

Ia mengemukakan tercatat lima desa mengalami dampak kerusakan pemukiman paling parah akibat gempa bumi tersebut, seperti Desa Uwenuni, Kamarora A, Kamarora B, Lembantongoa, dan Tongoa.

Baca juga: BMKG catat 1.176 kali gempa susulan di Sulawesi Tengah

"Untuk warga terdampak sebanyak 9.283 jiwa dengan 3.191 kepala keluarga yang tersebar di 48 desa dan 11 kecamatan pada wilayah Kabupaten Sigi," ucapnya.

Menurut dia, total warga terluka sebanyak 92 orang dengan rincian 14 orang luka berat dan 14 78 orang luka ringan.

"Kami pun sudah mengajukan untuk pembangunan 210 hunian sementara (huntara) kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bagi warga yang rumahnya rusak berat," kata Samuel Yansen Pongi.

Baca juga: Bupati Sigi beri tengat kades lapor data rumah korban gempa hari ini

Menurut dia, usai masa tanggap darurat berakhir maka dilanjutkan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

"Nanti pada masa rehab rekon ini pemerintah mulai menyalurkan bantuan stimulan bagi korban terdampak berdasarkan tingkat kerusakan rumah yang telah ditetapkan yakni rumah dengan kategori rusak ringan memperoleh bantuan stimulan Rp15 juta, rusak sedang Rp30 juta, dan rusak berat Rp60 juta," kata Samuel Yansen Pongi.

Diketahui status tanggap darurat bencana di Kabupaten Sigi berakhir pada 30 Juni 2026 mendatang.

Baca juga: BNPB: Sulteng tetapkan status tanggap darurat gempa bumi

Pewarta: Moh Salam
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.