Peluang untuk terwujudnya perdamaian jangka panjang semakin dekat
Jakarta (ANTARA) - Pengamat isu Timur Tengah dari Universitas Indonesia Muhammad Syaroni Rofii menilai peluang negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran masih terbuka di tengah penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran.
"Peluang untuk terwujudnya perdamaian jangka panjang semakin dekat, mengingat tim negosiator kedua negara terus bekerja di Swiss," kata Syaroni saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.
Selain itu, tambahnya, nota kesepahaman yang telah disepakati keduanya dan berlaku selama 60 hari juga telah memberikan ruang yang cukup bagi AS dan Iran untuk mengalihkan ketegangan di lapangan ke meja perundingan.
Syaroni mengatakan kehadiran Wakil Presiden AS J.D. Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, sebagai perwakilan dari delegasi masing-masing pihak, merepresentasikan komitmen serta kehendak politik untuk berdamai.
Baca juga: AS dan Iran sepakat dirikan komite pengawas implementasi MoU
Untuk saat ini, tambahnya, implementasi kesepakatan damai masih terhambat oleh eskalasi ketegangan di lapangan; di mana Israel masih melancarkan serangan ke Lebanon, sedangkan Iran menghendaki AS menekan Israel agar menghentikan perang.
"Faktor ini saya kira menjadi salah satu hambatan. Selebihnya, menyangkut aspek teknis," ucapnya.
Lebih lanjut, Syaroni mengatakan penutupan kembali Selat Hormuz kali ini cenderung bersifat sementara, mengingat proses negosiasi antara AS dan Iran masih berlangsung.
"Negara-negara Teluk dalam posisi mendukung tercapainya kesepakatan dan hal itu dipertegas dengan keberadaan Qatar hadir langsung sebagai mediator di Swiss," ucapnya.
Baca juga: Menlu Iran: Perundingan dengan AS capai kemajuan signifikan
Menurutnya, Iran pun ingin menagih janji AS sebagai pihak yang terlibat dalam kesepakatan tersebut. Dalam 14 poin nota kesepahaman, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi satu paket dengan implementasi gencatan senjata di semua lini, termasuk di Lebanon.
"Selama Israel masih menyerang Lebanon, kelihatannya Iran akan menggunakan pendekatan tersebut untuk sinyal diplomatik," tambahnya.
Negara-negara ASEAN pun perlu menyamakan visi dalam menghadapi potensi krisis di masa depan.
"Pelajaran dari situasi di Selat Hormuz adalah perlunya koordinasi kawasan untuk mencari solusi secara bersama-sama. Soliditas kawasan menjadi pilar penting bagi ketahanan negara-negara anggota," ujar Syaroni.
Baca juga: Swiss sambut delegasi Iran untuk pembicaraan kesepahaman dengan AS
Pewarta: Asri Mayang Sari
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.