Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pariwisata berupaya mengembangkan pariwisata berbasis produk indikasi geografis atau Geographical Indication (GI) Tourism guna menghadirkan pariwisata yang lebih berkualitas pada wisatawan.

Asisten Deputi Pengembangan Produk Pariwisata Kemenpar Itok Parikesit mengatakan pengembangan wisata tematik itu dilakukan bersama dengan Kementerian Hukum (Kemenhum).

"Saat ini, kolaborasi tersebut telah memasuki tahap audiensi dan pemetaan awal untuk mengidentifikasi potensi produk serta destinasi yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem GI Tourism yang berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal," kata Itok saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Baca juga: Mendes: Potensi desa yang dikelola dengan baik hasilkan kesejahteraan

Itok menjelaskan bahwa inisiatif itu bertujuan menjadikan produk-produk indikasi geografis sebagai pintu masuk pengembangan wisata tematik berbasis pengalaman (experience-based tourism), sehingga wisatawan tidak hanya mengenal atau membeli produk khas suatu daerah, tetapi juga terdorong mengunjungi daerah asalnya untuk menikmati proses produksi, budaya, tradisi, serta atraksi lokal yang melatarbelakanginya.

Menurutnya hal itu sejalan dengan adanya tren pariwisata dunia yang telah bergeser dari semula wisatawan hanya gemar melihat-lihat, kini menjadi mencari pengalaman yang membumi.

"Wisatawan tidak lagi hanya ingin membeli kopi atau kain tenun, tetapi juga ingin mengetahui cerita di balik produk tersebut," ujar Itok.

Baca juga: Kemendes siap bantu percepat pembangunan desa di Papua Barat

Oleh karena itu, Itok mengatakan produk khas daerah perlu dikemas menjadi sebuah pengalaman wisata yang utuh (story-driven tourism).

Sebagai contoh, kopi tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengunjungi kebun kopi, bertemu petani, mengikuti proses panen dan pengolahan, belajar teknik penyeduhan, menikmati kuliner lokal, hingga mengenal budaya masyarakat setempat.

Ketika produk dikemas menjadi sebuah narasi perjalanan yang autentik, katanya, barang tersebut akan berpotensi meningkatkan lama tinggal (length of stay) dan pengeluaran wisatawan (spending), sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi daerah.

Baca juga: Anggota DPR sebut kampung wisata berpotensi dongkrak ekonomi lokal

Baca juga: Kemenpar promosikan wisata tematik edukasi ke pasar Eropa-Afrika

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.