Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyatakan pelemahan rupiah perlu direspons dengan penguatan ketahanan keuangan pribadi.
“Pelemahan rupiah perlu direspons dengan penguatan ketahanan keuangan pribadi, bukan dengan perpindahan aset secara ekstrem,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, pelemahan rupiah berdampak secara langsung terhadap barang impor seperti gawai, barang elektronik, kendaraan dan suku cadang, obat tertentu, bahan makanan impor seperti gandum, kedelai, gula, susu, serta barang konsumsi rumah tangga yang masih bergantung pada pasokan luar negeri. Hal ini mengingat importir harus mengeluarkan rupiah lebih banyak untuk membeli barang yang sama dalam dolar AS.
Dalam hal ini, menurut dia, pelemahan rupiah dampaknya tak selalu langsung muncul di hari yang sama karena pelaku usaha biasanya masih punya persediaan lama, kontrak harga, atau sebagian menahan kenaikan harga agar konsumen tidak langsung turun.
Namun, jika pelemahan berlangsung lama, kenaikan biaya impor dinilai hampir pasti akan diteruskan ke harga jual secara bertahap.
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah juga berdampak tidak langsung ke barang konsumsi sehari-hari melalui bahan baku, energi, biaya angkut, pupuk, pakan ternak, kemasan, dan biaya produksi.
“Jadi, barang yang terlihat lokal pun bisa ikut naik bila bahan bakunya masih mengandung komponen impor. Misalnya makanan olahan berbasis gandum, produk susu, daging tertentu, makanan kemasan, kosmetik, obat, sampai barang kebutuhan rumah tangga,” ungkap dia.
Dalam konteks Juni 2026, risiko ini dianggap makin relevan karena Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi Mei 2026 naik menjadi 3,08 persen, dengan tekanan dari harga pangan bergejolak sebesar 6,24 persen dan harga yang diatur pemerintah sebesar 2,07 persen, antara lain akibat penyesuaian LPG, Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi, dan avtur yang sejalan dengan kenaikan harga energi global.
Kendati begitu, lanjutnya, tidak semua barang konsumsi akan naik dengan besaran yang sama. Barang dengan porsi impor tinggi dan persaingan terbatas biasanya lebih cepat naik. Adapun barang yang banyak diproduksi di dalam negeri dan pasokannya cukup biasanya lebih tertahan.
Baca juga: Phapros lakukan mitigasi dampak pelemahan rupiah pada bahan baku
Baca juga: Pelemahan rupiah buka peluang peningkatan konsumsi produk lokal
Untuk sembako, kata Josua, pelemahan rupiah bukan satu-satunya penentu harga karena faktor panen, distribusi, cuaca, stok pemerintah, dan kebijakan harga juga sangat menentukan.
Meninjau dari sisi daya beli, risikonya adalah masyarakat menjadi lebih selektif, seiring Survei Konsumen BI Mei 2026 masih menunjukkan keyakinan konsumen tetap kuat dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) 120,9, tetapi turun dari 123,0 pada April, sementara penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini juga turun menjadi 112,2 dari 116,5.
Penjualan eceran Mei 2026 juga diprakirakan masih terkontraksi 3,2 persen secara tahunan, walaupun membaik secara bulanan.
“Artinya, konsumsi belum jatuh, tetapi rumah tangga mulai lebih berhati-hati, terutama untuk barang sekunder dan barang tahan lama,” ujar Josua.
Lebih lanjut, dia menerangkan bahwa kenaikan suku bunga acuan BI menjadi 5,75 persen juga perlu dilihat sebagai respons untuk menahan pelemahan rupiah dan mencegah inflasi impor melebar. Kebijakan ini dianggap tepat dari sisi stabilitas, tetapi ada konsekuensi ke biaya dana dan kredit.
Data asesmen suku bunga perbankan menunjukkan suku bunga kredit rupiah masih turun tipis, tetapi suku bunga kredit baru mulai meningkat karena penyesuaian risiko dan kondisi pendanaan perbankan. Hal ini berarti pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga bisa menekan rumah tangga dari dua arah sekaligus, yaitu harga barang impor naik dan biaya pembiayaan baru ikut lebih mahal.
Baca juga: Menteri UMKM akui pelemahan rupiah mulai tekan sejumlah pelaku usaha
Baca juga: Ekonom: Kenaikan BI-Rate langkah antisipatif kurangi risiko eksternal
Baca juga: Gubernur BI: Cadangan devisa tetap kuat antisipasi pelemahan rupiah
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.