Ketika fondasi literasi diperkuat sejak dini, pendidikan vokasi, pelatihan kerja, dan pengembangan keterampilan digital akan menjadi lebih efektif dalam menghasilkan tenaga kerja yang kompeten.

Jakarta (ANTARA) - Harapan untuk memutus lingkaran setan antara rendahnya kualitas tenaga kerja dan terbatasnya lapangan kerja berkualitas di Indonesia setidaknya dapat dimulai dari penguatan literasi, yang menurut Bank Dunia menjadi fondasi produktivitas dan keterampilan kerja.

Bank Dunia menyebut literasi, numerasi, dan kemampuan berpikir dasar sebagai fondasi pembelajaran sepanjang hayat yang menentukan kemampuan seseorang mengembangkan keterampilan kerja dan meningkatkan produktivitas.

Di tengah transformasi digital yang berlangsung cepat, kemampuan membaca, memahami informasi, berpikir kritis, dan beradaptasi menjadi modal penting untuk menjawab kebutuhan industri masa depan. Oleh karena itu, investasi pada literasi tidak lagi sekadar urusan pendidikan, melainkan bagian dari strategi pembangunan ekonomi dan ketenagakerjaan jangka panjang.

Perspektif tersebut menjadi semakin relevan ketika Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri modern.

Pada satu sisi, perusahaan membutuhkan pekerja yang mumpuni untuk bidang yang diinginkan, minimal mampu beradaptasi dengan teknologi dan perubahan model bisnis. Sementara di sisi lain, jutaan pencari kerja masih sulit memperoleh pekerjaan formal yang menawarkan pendapatan layak dan peluang pengembangan karier.

Kondisi itu menciptakan paradoks yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah pembangunan nasional. Lowongan kerja tersedia, tetapi tidak selalu dapat diisi karena keterbatasan kompetensi. Sebaliknya, jumlah pencari kerja terus bertambah, tapi tidak seluruhnya memiliki keterampilan yang dibutuhkan pasar.

Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan sekitar 58 persen tenaga kerja Indonesia masih bekerja di sektor informal. Angka tersebut mencerminkan bahwa lebih dari separuh pekerja di Indonesia belum menikmati kepastian pendapatan, perlindungan sosial, maupun jenjang karier yang umumnya tersedia di sektor formal.

Sementara itu, Bank Dunia dalam laporan Indonesia Economic Prospects mencatat sebagian besar lapangan kerja baru masih terkonsentrasi pada sektor pertanian, akomodasi, serta jasa makanan dan minuman yang cenderung memiliki produktivitas dan tingkat upah lebih rendah dibanding sektor manufaktur modern maupun industri berbasis teknologi.

Fenomena itu sekaligus menjelaskan mengapa pertumbuhan ekonomi yang tercermin dalam peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) tidak selalu diikuti peningkatan kesejahteraan yang dirasakan secara merata oleh masyarakat.

Dalam beberapa tahun terakhir, struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia masih ditopang oleh sektor-sektor padat karya berupah rendah seperti pertanian, perdagangan informal, serta jasa makanan dan minuman, yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar namun dengan produktivitas terbatas.

Di saat yang sama, porsi pekerjaan formal dengan jaminan pendapatan stabil dan perlindungan sosial belum tumbuh secepat ekspansi angkatan kerja. Kondisi ini membuat banyak pekerja berada dalam situasi rentan, termasuk pekerja harian, pekerja lepas, hingga pelaku usaha mikro yang pendapatannya sangat bergantung pada fluktuasi permintaan harian.

Tantangan ke depan juga semakin kompleks karena masih tingginya angka pengangguran terselubung yang menurut Bank Dunia mencapai 32,7 persen. Artinya, banyak masyarakat memang bekerja, tetapi jam kerja dan pendapatan yang diperoleh belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak.

Pada saat yang sama, persoalan ketidaksesuaian keterampilan atau skill mismatch terus membayangi pasar kerja Indonesia. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sekitar 50 persen pekerja baru masih memiliki tingkat literasi digital dasar hingga menengah.

Padahal, banyak sektor industri saat ini membutuhkan tenaga kerja yang mampu mengoperasikan teknologi digital, menganalisis data, berkolaborasi secara daring, serta beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Baca juga: MPR dorong kolaborasi multipihak tingkatkan literasi nasional

Baca juga: Anak perlu diberi literasi agar terhindari dari ancaman ruang digital

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.