Jakarta (ANTARA) - Himpunan Wastraprema (HWP) dan Museum Tekstil (Mustek) Jakarta bekerja sama dalam merayakan peringatan usia 50 tahun menggelar pameran wastra langka dan bersejarah bertajuk “Menjaga Warisan untuk Masa Depan”.
Kepala Dinas Kebudayan DKI Jakarta Miftahulloh Tamary, menyampaikan bahwa peringatan 50 tahun Museum Tekstil bukan sekadar penanda perjalanan sebuah institusi pelestarian budaya, namun turut menjadi momentum refleksi komitmen dan dedikasi bersama dalam menjaga warisan wastra Indonesia.
“Pelestarian bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu generasi, melainkan proses panjang yang membutuhkan kolaborasi berkelanjutan agar museum berfungsi sebagai ruang dialog dan pembelajaran masyarakat,” ujar Miftahulloh, dalam keterangan resmi yang diterima, pada Rabu.
Dalam hal ini, perjalanan panjang tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Himpunan Wastraprema yang telah menghibahkan 500 koleksi wastra sebagai modal awal berdirinya museum ini. Sehingga dari sana lahir semangat kolektif untuk merawat kekayaan budaya nasional.
Baca juga: NTB kenalkan tenun sakral dalam pameran wastra nasional di Yogyakarta
Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Sri Kusumawati, mengatakan pameran wastra “Menjaga Warisan untuk Masa Depan” sarat nilai edukasi sejarah bagi generasi muda.
“Museum tekstil berperan vital menjaga,merawat,mengembangkan, sekaligus memperkenalkan kekayaan wastra Nusantara. Kami berharap pameran ini menginspirasi masyarakat mengenal lebih dekat budaya kita dengan ke Museum Tekstil,’’ ujar Sri Kusumawati.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Wastraprema periode 2023-2027, Sri Sintasari (Neneng) Iskandar mengatakan warisan budaya bernilai seni tinggi adalah mahakarya bangsa yang harus dihargai.
Baca juga: Koleksi Museum Tekstil Jakarta dipamerkan di Korea Selatan
“Karena itu Himpunan Wastraprema berkomitmen meningkatkan citra, pemahaman, dan apresiasi kain tradisional Indonesia agar terus diwariskan kepada generasi penerus,” tutur dia.
Adapun seluruh kain yang dipamerkan merupakan kurasi terbaik dari hibah HWP sejak 1976. Pada awal pendirian, HWP menghibahkan 500 lembar wastra dari tokoh bangsa seperti dari Ibu Negara Tien Suharto, Ali Sadikin, Go Tik Swan (Panembahan Hardjonegoro), Gusti Putri Mangkunegoro VIII, Lasmidjah Hardi, Herawati Diah dan tokoh tokoh lainnya.
Pada perayaan 25 tahun disusul 200 helai wastra. Kini di tahun emas ke 50, HWP menerima hibah 114 kain ulos dari kolektor Torang Sitorus untuk museum tekstil.
Baca juga: Museum NTB ungkap keunggulan wastra sebagai alat diplomasi budaya
Hibah ulos tersebut diterima Himpunan Wastraprema yang selanjutnya diserahkan kepada Museum Tekstil secara simbolis pada peringatan ulang tahun ke-50 ini.
Pameran wastra langka dan bersejarah bertajuk “Menjaga Warisan untuk Masa Depan” sudah dibuka yang berlangsung hingga 30 Agustus mendatang di Museum Tekstil Jakarta, menampilkan 62 helai wastra pilihan bernilai historis tinggi, 19 wastra legendaris sumbangan pendiri HWP, 31 wastra hibah para donator, serta 12 ulos langka koleksi Torang Sitorus.
Baca juga: Fadli: Wastra Jepang dan Indonesia miliki esensi yang sama
Daya Tarik utama pameran ini seperti umbul-umbul Caruban Nagari dari Keraton Kasepuhan Cirebon. Lambang Kenegaraan kesultanan Cirebon dibuat dengan teknik batik keris bermotif kaligrafi dan memiliki nilai historis sebagai simbol semangat nasionalisme pribumi di Sunda Kelapa. Bendera ini pembakar semangat untuk mengusir penjajah yang mencoba menduduki Sunda Kelapa kala itu.
Selain pameran, rangkaian 50 tahun HWP juga turut menghadirkan Bincang Bincang Wastra pada 4 Juli 2026 yang mengupas sejarah dan filosofi Dwaja Pusaka Caruban Nagari dengan pembicara Budayawan dan Sejarawan Cirebon Astaqim Asteja.
Pameran wastra itu turut dihadiri para duta besar negara sahabat di antaranya Duta besar Belanda, Turkey dan Equador.
Baca juga: Museum NTB boyong koleksi wastra dalam pameran keliling di Sumbawa
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.