Bangsa yang besar bukan saja tentang bagaimana cara mereka membangun peradaban, tetapi juga mampu mengingat, merawat, dan mewariskan sejarah dengan baik kepada generasi mendatang.
Mataram (ANTARA) - Maket Gunung Samalas dan Gunung Tambora dengan tinggi sekitar 90 cm serta dikelilingi lampu dekorasi berwarna kuning bukan sekadar benda penghias ruang pameran yang remang dan dingin di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB).
Setiap pengujung yang masuk ke ruangan itu seolah diajak teleportasi ke masa lalu untuk mempelajari dan memahami bagaimana awal mula terbentuknya sebuah peradaban baru. Dari tanah kosong tak berpenghuni yang rusak akibat amukan erupsi menjadi kawasan yang dipadati pemukiman lengkap dengan aktivitas agama, budaya, sosial, ekonomi, hingga berbagai dinamika politik.
Buku berjudul Gunung dan Segara: Jejak Samalas dan Tambora dalam Peradaban yang dikeluarkan oleh Museum NTB menjelaskan erupsi bukan sekadar peristiwa geologi, melainkan momen transformasi yang mengubah alam, membuat manusia beradaptasi, dan budaya menemukan bentuk baru.
Letusan Gunung Samalas pada 1257 dan Gunung Tambora pada 1815 —yang mempengaruhi iklim global— telah menorehkan jejak mendalam bagi sejarah dan kebudayaan umat manusia di seluruh dunia.
Para turis asing, terutama dari Eropa, yang berkunjung ke Museum NTB acapkali melontarkan segudang pertanyaan tentang bagaimana dua gunung berapi itu menimbulkan dampak maha dahsyat bagi Planet Bumi yang mengguncang arah sejarah, mengubah cara hidup, dan membentuk ingatan kolektif.
Dari Samalas dan Tambora yang hanya terpaut jarak sekitar 150 kilometer, Nusa Tenggara Barat sebetulnya punya ikatan kuat dengan seluruh negara di dunia.
Berbagai bukti geologis dan arkeologis tentang letusan dua gunung berapi itu dapat ditemukan lewat catatan naskah kuno hingga jurnal-jurnal ilmiah. Ini adalah modal yang sangat berharga untuk membangun daerah dengan menonjolkan aspek narasi sejarah dan budaya.
Bukan gudang benda tua
Fungsi museum saat ini bukan lagi sebagai bangunan sunyi berdebu untuk menyimpan artefak kuno. Museum merupakan ruang diplomasi lunak atau soft diplomacy yang menjembatani budaya, memperkuat identitas, dan membangun pemahaman antarmasyarakat maupun antarbangsa.
Di era modern, museum menjelma menjadi ruang hidup yang menghubungkan cerita masa lalu, pengalaman masa sekarang, dan teropong untuk menatap masa depan.
Para pengunjung yang datang ke ruang pameran tidak hanya melihat pajangan artefak yang disusun rapih di dalam vitrin kaca yang dilapisi cat kayu gelap, tetapi juga memahami kisah dan filosofi dari setiap perjalanan yang membentuk karakter masyarakat.
Museum memiliki peran strategis untuk mendukung ekonomi kreatif, menghadirkan pariwisata berkualitas, dan memperkuat jejaring internasional hingga mendorong kolaborasi akademik.
Kehadiran museum hidup yang dekat dengan masyarakat melalui program Kotaku Museumku dan Kampungku Museumku menjadi upaya cemerlang menjadikan museum sebagai panggung diplomasi lunak guna memperkenalkan jati diri penduduk Nusa Tenggara Barat kepada masyarakat dunia.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.