Berau (ANTARA) - Di balik lembah yang terhampar luas dan deretan bukit karst yang menjulang bak istana alam, tersembunyi sebuah ruang di antara rimbun dedaunan dan jutaan pagar pohon kokoh. Ruang itu menyimpan kisah peradaban sejak ribuan tahun lalu.
Di sinilah Goa Beloyot berdiri megah, menyimpan goresan tangan dan gambar purba yang menjadi saksi bisu bagaimana manusia purba hidup, berkarya, dan memiliki keyakinan jauh sebelum catatan sejarah tertulis.
Kini, tempat yang selama ini hanya menjadi rahasia alam itu perlahan membuka diri, bukan hanya untuk dikagumi, melainkan menjadi jalan baru bagi Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menuju transformasi ekonomi lebih berkelanjutan.
Perjalanan menuju Goa Beloyot, paling dekat dimulai dari Kampung Merabu, permukiman yang dikelilingi hutan tropis lebat dan aliran sungai kecil yang jernih. Jaraknya sekitar 5 kilometer, dan hampir separuh jalur itu harus ditempuh dengan menyusuri dasar lembah yang sering tergenang air dangkal.
Di kanan kiri jalan setapak, banyak terlihat jamur putih yang bisa dikonsumsi. Langkah demi langkah, suara gemericik air berpadu dengan kicau burung dan suara angin yang berembus di celah pepohonan.
Saat sampai dekat mulut goa, suasana berubah hening. Cahaya matahari hanya bisa menembus sebagian rimbun daun diiringi embusan angin tipis, menciptakan bayangan seolah tari erotis di dinding batu.
Begitu masuk goa dengan penuh perjuangan di lorong sempit, volume tak beraturan, tanjakan terjal, ke luar pintu goa pertama, masuk mulut goa berikutnya dengan posisi terus menanjak, akhirnya sampai juga ke bagian penting istana alam.
Di tengah sengal nafas, setelah naik tangga menuju goa utama, keajaiban terlihat. Di dinding dan langit-langit goa terlukis telapak tangan, sosok, serta simbol-simbol kuno yang diperkirakan berusia antara 10.000 hingga 40.000 tahun. Tampak 26 jenis gambar di ruang itu yang didominasi telapak tangan manusia.
Goresan tersebut bukan sekadar bekas. Ia adalah bukti bahwa ribuan tahun silam, manusia purba yang mendiami wilayah itu sudah mengenal seni, mengembangkan budaya, dan memiliki pandangan hidup serta kepercayaan spiritual.
Bagi mereka, gua ini mungkin menjadi tempat tinggal, tempat berkumpul, hingga tempat memohon perlindungan kepada kekuatan alam yang mereka anggap sebagai Pencipta.
Kini, jejak-jejak itulah yang menjadi harta tak ternilai, sekaligus modal dasar bagi Berau untuk melangkah ke arah pembangunan yang berbeda dari sebelumnya.
Transformasi ekonomi
Selama puluhan tahun, perekonomian Berau sangat bergantung pada sektor pertambangan. Kekayaan yang diambil dari dalam perut bumi memang memberikan kemajuan, namun membawa risiko, sumber daya dari tambang, suatu hari akan habis.
Menyadari hal itu, pemerintah daerah bertekad melakukan perubahan besar, melakukan transformasi ekonomi secara bertahap, dari yang mengandalkan apa yang dikeluarkan dari bumi, menuju apa yang bisa dijaga dan dimanfaatkan secara terus-menerus, yakni kekayaan alam dan warisan budaya.
Langkah strategis itu terwujud dalam penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) Pengelolaan Geopark Kabupaten Berau untuk periode 2026–2032.
Kegiatan pengumpulan data dan presentasi laporan pendahuluan dilaksanakan pada Jumat, 19 Juni 2026, di Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang) Pemkab Berau.
Acara itu menjadi tonggak awal, dihadiri oleh perangkat daerah, tim pengelola Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, serta tim akademisi dari Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kepala Bapelitbang Pemkab Berau Endah Ernani Triariani, menegaskan bahwa kajian ini merupakan bagian dari visi jangka panjang yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah.
Pemkba Berau ingin mengubah arah pembangunan. Tidak lagi hanya bergantung pada hasil tambang, tapi mulai mengandalkan potensi pariwisata dan jasa lingkungan yang bisa dinikmati oleh generasi sekarang dan mendatang.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.