Momen itu terasa seperti lukisan hidup yang bergerak perlahan di depan mata. Dalam suasana seperti itu, waktu seolah melambat.
Kota Bharu, Malaysia (ANTARA) - Langit Kota Bharu tampak cerah ketika pesawat AirAsia yang kami tumpangi menyentuh landasan Bandara Sultan Ismail Petra pada Sabtu (21/6) sore.
Dari balik jendela pesawat, hamparan hijau dan garis pantai di pesisir timur Malaysia membentang tenang, menyambut perjalanan menuju salah satu destinasi bahari paling memesona di Asia Tenggara, Pulau Perhentian.
Perjalanan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, yang dimulai pukul 12.10 WIB itu terasa istimewa. Bukan hanya karena destinasi yang dituju, tetapi juga karena kemudahan akses yang kini tersedia bagi wisatawan Indonesia.
AirAsia baru saja membuka rute langsung Jakarta–Kota Bharu yang mulai beroperasi pada 16 Juni 2026. Dengan empat penerbangan setiap pekan, rute ini menjadi jalur internasional langsung pertama yang menghubungkan Kota Bharu dengan Indonesia.
Kehadiran rute tersebut memangkas waktu perjalanan sekaligus membuka akses ke pesisir timur Malaysia, kawasan yang selama ini kerap kalah populer dibandingkan Kuala Lumpur atau Penang. Padahal, wilayah ini menyimpan kekayaan budaya Melayu yang kuat, kuliner autentik, serta bentang alam laut yang menawan.
"Kami sangat antusias memperkenalkan konektivitas baru ini dan waktunya sangat tepat untuk semakin mendorong pertumbuhan destinasi pesisir utara kami melalui kedatangan lebih banyak wisatawan internasional, seiring Kelantan memperluas pengembangan sektor wisata medis," ujar General Manager AirAsia Malaysia, Dato’ Captain Fareh Mazputra.
Kota Bharu dan Jakarta sejatinya memiliki kedekatan yang tidak asing. Keduanya terhubung oleh budaya Melayu-Muslim, tradisi yang kaya, serta hubungan sosial yang telah terjalin sejak lama. Jika Jakarta dikenal sebagai pusat ekonomi yang dinamis, Kota Bharu menawarkan ritme kehidupan yang lebih santai dengan pesona budaya tradisional dan kuliner khas Kelantan.
Namun, Kota Bharu hanyalah gerbang awal. Tujuan sesungguhnya masih berada di tengah Laut China Selatan.
Baca juga: Malaysia berupaya jadi tujuan utama wisata medis untuk Indonesia
Menuju Pulau Perhentian
Setelah tiba sekitar pukul 15.30 waktu Malaysia, perjalanan dilanjutkan menuju Kuala Besut, kota pelabuhan kecil yang menjadi pintu utama menuju Kepulauan Perhentian.
Menjelang senja, rombongan tiba di Fairfield by Marriott Kuala Besut untuk bermalam sebelum menyeberang ke pulau keesokan harinya.
Malam di Kuala Besut berjalan tenang. Lalu lintas tidak terlalu padat, sementara angin laut membawa aroma asin yang khas. Di kejauhan, lampu-lampu kapal nelayan berkelip di atas permukaan laut yang gelap. Suasana itu menghadirkan rasa antusias sekaligus penasaran akan keindahan yang menanti di seberang lautan.
Keesokan paginya, Pelabuhan Kuala Besut sudah ramai sejak matahari belum terlalu tinggi. Tepat pukul 09.00, rombongan AirAsia yang terdiri atas jurnalis dan kreator konten dari Indonesia menaiki kapal cepat untuk menyeberangi Laut China Selatan.
Ombak pagi itu cukup bersahabat. Kapal melaju membelah laut biru, sementara hembusan angin sesekali menerpa wajah. Sekitar 40 menit kemudian, pemandangan yang selama ini hanya terlihat di brosur wisata akhirnya hadir di depan mata.
Air laut berwarna biru kehijauan membentang sejauh pandangan. Dasar laut tampak jelas bahkan dari atas kapal. Garis pantai berpasir putih berkilau diterpa matahari, sementara perbukitan hijau mengelilingi pulau layaknya benteng alami.
Kesan pertama itu langsung menjelaskan mengapa Pulau Perhentian kerap disebut sebagai salah satu destinasi bahari terbaik di Malaysia.
Baca juga: Pemerintah berupaya tingkatkan kunjungan wisatawan Malaysia ke Kepri
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.