Pemilik rumah kos yang meledak di Makassar serahkan diri

Pemilik rumah kos yang meledak di Makassar serahkan diri

Ilustrasi - Tim Gegana Polda Sulselbar melakukan penggeledahan di sebuah kos-kosan yang menjadi lokasi ledakan di Jalan Barawaja II, Kelurahan Tammua, Kecamatan Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (17/5/2016) malam. (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)

Makassar (ANTARA News) - H Malik, pemilik rumah kos elit di Makassar, Sulawesi Selatan dimana sebuah bom ikan meledak dan melukai dua orang, akhirnya menyerahkan diri kepada polisi.

Pemilik rumah kos elit yang meledak terkait bom ikan bernama H Malik di jalan Barawaja II, Kelurahan Tammua, Kecamatan Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan, akhirnya menyerahkan diri ke polisi.

"Beliau mendatangi kantor polisi karena didesak keluarga sekaligus mengklarifikasi persoalan itu. Saat ini kami masih menetapkannya sebagai saksi," ujar Wakasat Reskrim Polrestabes Makassar Kompol Tri Hambodo di Makassar, Minggu.

Menurut Tri Hambodo, H Malik menyerahkan diri pada Sabtu (21/5) bersama keluarganya. Malik diperiksa selama lebih dari tiga jam oleh penyidik Polrestabes untuk mengatahui keterlibatannya dalam kasus ledakan bom ikan di rumah kos miliknya.

Dua orang korban dalam ledakan itu sekarang masih dirawat intesif di Rumah Sakit Bayangkara Makassar karena menderita luka serius.

"Dua korban belum bisa diperiksa karena masih dirawat di Rumah Sakit. Setelah agak mendingan baru kami minta keterangan mereka," katanya.

Tri mengemukakan pemeriksaan dan penetapan tersangka harus dilengkapi dua alat bukti dan saksi.

"Saksi tidak kami tahan karena bukti-buktinya belum lengkap, beliau bukan menyerahkan diri tetapi datang ke kantor polisi untuk memberikan penjelasan," ujarnya kepada wartawan.

Sebuah ledakan terjadi di rumah kos elit di Jalan Barawaja II Makassar dan melukai dua orang yakni Acong (26) dan Harun (22) pada Selasa 17 Mei 2016 pukul 20.15 WITA. Warga sekitar dikagetkan dengan suara dentuman yang sangat keras.

Polisi menetapkan ledakan tersebut murni akibat bom ikan yang sedang dirakit untuk keperluan penangkapan ikan secara ilegal dan bukan aksi terorisme.

Pewarta: Darwin Fatir
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar