Konsumsi minyak kita berada di angka 1,6 juta barel per hari, sementara produksi (lifting) dalam negeri 577 ribu barel per hari. Artinya, kita harus mengimpor lebih dari 1 juta barel setiap harinya
Jakarta (ANTARA) - Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Satya Hangga Yudha Widya Putra mengatakan peralihan energi fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi keharusan strategis.
Menurut dia, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, Presiden RI sudah memberi arahan perlunya pergeseran ketergantungan dari energi fosil ke EBT demi mengurangi beban impor nasional.
"Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar pada sektor minyak bumi. Konsumsi minyak kita berada di angka 1,6 juta barel per hari, sementara produksi (lifting) dalam negeri 577 ribu barel per hari. Artinya, kita harus mengimpor lebih dari 1 juta barel setiap harinya," ujarnya.
Hangga melanjutkan sejak 2004, Indonesia telah menjadi net importer minyak karena kondisi reservoir yang sudah tua dan memiliki kandungan air yang tinggi.
Lebih lanjut, Hangga menjelaskan kendala infrastruktur di mana kapasitas total kilang nasional sebesar 1,2 juta barel per hari saat ini hanya mampu mengolah 900.000 barel, sehingga sisa kekurangan terpaksa diimpor dalam bentuk BBM jadi.
Ketergantungan terhadap impor energi ini pun menggerus APBN, terutama saat terjadi guncangan geopolitik global seperti konflik penutupan Selat Hormuz di Timur Tengah.
Baca juga: Tenaga Ahli Menteri ESDM tekankan pentingnya transisi energi hijau
Baca juga: Tenaga Ahli Menteri ESDM dorong LNG ritel jadi alternatif bahan bakar
"Oleh karena itu, peralihan ke EBT bukan lagi sekadar alternatif, melainkan sebuah keharusan strategis," ujarnya saat menjadi pembicara utama Symposium Energy 2026, yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Besar Mahasiswa Institut Teknologi PLN (KBM ITPLN) dan SRE ITPLN di Kampus ITPLN Jakarta, Jumat.
Hangga menambahkan meskipun porsi bauran EBT nasional saat ini baru berada di 18 persen, namun pemerintah optimistis mengejar target net zero emission (NZE) pada 2060 melalui peta jalan yang agresif.
Salah satu program yang sedang dikawal oleh Kementerian ESDM bersama PT PLN (Persero) adalah pembangunan 100 GW PLTS dalam tiga tahun ke depan, serta optimalisasi potensi lokal seperti panas bumi, biomassa, program listrik desa (lisdes), hingga nuklir.
Hangga mengatakan berbeda dengan sektor minyak, Indonesia memiliki posisi tawar kuat pada komoditas lain.
Sektor gas bumi tercatat surplus dengan 70 persennya dialokasikan untuk kebutuhan domestik dan 30 persen diekspor dalam bentuk LNG maupun gas pipa.
Selain itu, Indonesia menguasai lebih dari 40 persen pasokan batu bara global serta kaya cadangan mineral strategis seperti nikel dan emas.
Menurut Hangga, ke depan, pemerintah menciptakan industri hijau, yang membuka banyak lapangan kerja bagi generasi muda.
Ia pun mengajak mahasiswa ITPLN berkontribusi nyata melalui pengembangan wawasan, riset, serta kajian-kajian ilmiah yang dapat memberikan solusi bagi pemenuhan kebutuhan energi masyarakat luas.
"Peran PLN sebagai penyedia listrik terbesar dan kerja sama dengan Kementerian ESDM sangat vital karena listrik menggerakkan seluruh urat nadi perekonomian nasional. Di tangan anak muda dan mahasiswa teknik inilah masa depan kedaulatan energi Indonesia ditentukan," sebutnya.
Baca juga: Tenaga Ahli Menteri ESDM perkuat diplomasi energi RI-Rusia
Baca juga: TAM ESDM: Akselerasi PLTS jadi tulang punggung transisi energi RI
Pewarta: Kelik Dewanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.