Dari bilik Sekolah Rakyat di Aceh, Syafika Naila sedang menggoreskan jalannya sendiri, menuju masa depan yang dahulu terasa mustahil, hingga suatu hari nanti, mungkin benar-benar bermuara di jantung Thailand.

Banda Aceh (ANTARA) - Tidak semua ruang kelas melahirkan juara melalui angka-angka di rapor. Ada ruang kelas yang diam-diam menjadi tempat lahirnya mimpi, ketika seorang guru menemukan bakat yang bahkan belum disadari oleh muridnya sendiri.

Di salah satu ruang belajar Sekolah Rakyat Menengah Atas I Aceh Besar, Sentra Darussa'adah, seorang guru bahasa Inggris bernama Rizki Hawalaina melihat sesuatu yang berbeda pada seorang siswi yang lebih sering menundukkan kepala daripada mengangkat tangan.

Siswi itu bernama Syafika Naila. Di balik sifat pemalu muridnya itu, Rizki menemukan dua potensi yang bersinar, yakni kemampuan berbahasa Inggris dan bakat menggambar.

"Syafika jarang tampil di depan umum, tetapi saya melihat kemampuan bahasa Inggris dan menggambarnya sangat menonjol," tutur Rizki kepada ANTARA, Kamis (25/6).

Bakat itu tidak dibiarkan mengendap. Bersama seorang siswi lain, Nur Salsabila, Syafika didampingi menyatukan ilustrasi dan cerita dalam sebuah komik berbahasa Inggris berjudul Little Friend in The Evening Park.

Rizki mengawal setiap proses pembuatan komik itu, mulai dari penyusunan alur cerita hingga penyempurnaan setiap ilustrasi agar gambar dan narasi berbicara dalam bahasa yang sama.

Kini, komik tentang dua sahabat yang dipertemukan kembali setelah lama berpisah itu masih menunggu proses penerbitan. Namun bagi Rizki, nilai terbesarnya bukan sekadar sebuah buku yang kelak hadir di rak perpustakaan atau toko buku, melainkan keberanian dua anak dari keluarga sederhana untuk percaya bahwa karya mereka layak dibaca banyak orang.

Yang paling mengesankan, kata Rizki, bukan hanya hasil akhirnya.

"Setiap hari mereka mau berdiskusi, bertanya, dan menerima masukan. Mereka selalu ingin memperbaiki karya agar lebih baik."

Selama satu tahun mendampingi Syafika, ia menyaksikan perubahan yang jauh melampaui kemampuan menggambar. Seorang anak yang dahulu enggan berbicara perlahan belajar percaya pada dirinya sendiri.

Baca juga: Pemerintah pacu pembangunan sekolah rakyat di Nagan Raya Aceh

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.