Ketika data menyatukan teknologi, tenaga kesehatan, dan kebutuhan warga dalam satu ekosistem, integrasi bukan lagi sekadar proyek digital. Ini adalah ikhtiar membangun kota yang tidak hanya sigap mengobati, tetapi juga cerdas menjaga kesehatan wargan
Surabaya (ANTARA) - Di ruang gawat darurat, waktu sering kali lebih berharga daripada obat. Beberapa menit keterlambatan menentukan apakah seorang pasien dapat segera ditangani atau harus berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain karena ruang perawatan penuh.
Persoalan semacam itu bukan hanya soal kapasitas layanan, melainkan juga soal informasi yang terputus.
Kota Surabaya, Jawa Timur kini mencoba menjawab tantangan tersebut melalui langkah yang lebih mendasar, yakni menyatukan data kesehatan.
Pemerintah Kota Surabaya mengintegrasikan 69 rumah sakit dalam sistem Satu Data Kesehatan Surabaya yang memungkinkan informasi mengenai ketersediaan tempat tidur, tenaga kesehatan, ambulans, hingga kapasitas layanan dapat dipantau secara real time. Bersamaan dengan itu, rekam medis elektronik dari puskesmas dan rumah sakit mulai dihimpun dalam satu sistem yang terhubung.
Gagasan tersebut terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya mencerminkan perubahan besar dalam cara memandang pelayanan kesehatan.
Selama bertahun-tahun, rumah sakit, puskesmas, dan pemerintah sering kali bekerja dengan data masing-masing. Akibatnya, keputusan penting masih bergantung pada laporan manual, komunikasi melalui telepon, bahkan perkiraan di lapangan. Padahal, kesehatan masyarakat semakin kompleks.
Indonesia menghadapi transisi epidemiologi ketika penyakit menular belum sepenuhnya hilang, sementara penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan kanker terus meningkat. Kondisi demikian menuntut sistem kesehatan yang mampu membaca perubahan secara cepat, bukan sekadar bereaksi ketika rumah sakit sudah dipenuhi pasien.
World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia menempatkan sistem informasi kesehatan sebagai salah satu fondasi utama penguatan layanan kesehatan. Sementara itu, Kementerian Kesehatan melalui platform SatuSehat juga sedang membangun integrasi data kesehatan nasional agar pelayanan menjadi lebih efisien dan berkesinambungan.
Dalam konteks tersebut, langkah Surabaya menjadi menarik karena mencoba menerjemahkan kebijakan nasional ke dalam praktik yang lebih dekat dengan kebutuhan warga.
Baca juga: Ketika kota menjadi ruang sembuh
Baca juga: Kemenkes: Peringatan dini berbasis data cegah dampak polusi udara
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.