Ini adalah laga dengan spektrum penuh, yang menjadi adu ambisi, sekaligus duel sengit antar para pengisi ketiga lini dari dua tim yang memainkan sepak bola menyerang sampai ke tulang sumsum.
Jakarta (ANTARA) - Pada 1992, sebelum meluncurkan liga sepak bola profesional J League dan tahun ketika mereka untuk pertama kali lolos ke putaran final Piala Dunia, Jepang mengungkapkan rencana ambisius: menjuarai Piala Dunia pada 2092.
Tiga belas tahun kemudian target untuk ambisi besar itu dimajukan menjadi 2050 setelah Jepang mengumumkan Visi 100 Tahun untuk program sepak bolanya.
Namun, skuad Samurai Biru pada Piala Dunia 2026 tak mau menunggu selama itu. "Kami sungguh ingin menjuarai Piala Dunia ini (Piala Dunia 2026," kata gelandang Daichi Kamada, setelah Jepang menaklukkan Tunisia 4-0 dalam pertandingan kedua Grup F.
Kamada yang mencetak gol pembuka ke gawang Tunisia dan pemain Jepang terbanyak melepaskan umpan sejauh ini, bukan satu-satunya yang menginginkan hal itu, karena yang lain pun begitu, termasuk pelatih Hajime Moriyasu.
Namun, setelah lolos ke babak 32 besar sebagai runner-up Grup F dengan bekal satu kemenangan dan dua hasil imbang, langkah Samurai Biru langsung menghadapi ujian berat. Dalam laga di Houston Stadium pada Senin (29/6) pukul 24.00 WIB, mereka harus berhadapan dengan Brasil, batu karang yang berpotensi menghentikan laju mereka sebelum sempat melangkah lebih jauh.
Brasil yang sudah lima kali menjuarai Piala Dunia dan sejak terakhir mengangkat trofi pada 2002 selalu mampu melaju setidaknya hingga perempat final, menjadi ujian yang amat berat bagi Jepang. Tantangan itu terasa semakin sulit karena kekuatan Samurai Biru terkikis oleh absennya Wataru Endo, Kaoru Mitoma, dan Takumi Minamino akibat cedera.
Apalagi Brasil juga tak kalah ambisius dari Jepang. Tim Samba sudah sangat kebelet menghentikan penantian 24 tahun menjadi juara dunia, sampai-sampai melanggar tabu mereka sendiri dengan merekrut pelatih yang bukan orang Brasil.
Namun, justru dengan merekrut pelatih bertangan dingin dan bergaransi juara seperti Carlo Ancelotti, ekspektasi Brasil meninggi kembali.
Ancelotti memang tak pernah melatih timnas kecuali sebagai asisten pelatih ketika Italia runner up Piala Dunia 1994, tapi perjalanan karier kepelatihannya di level klub selalu dekat dengan kesuksesan. Ia mengantar tim-tim yang ditanganinya meraih gelar juara di Italia bersama Juventus dan AC Milan, di Inggris bersama Chelsea, di Prancis bersama Paris Saint-Germain, serta di Spanyol bersama Real Madrid.
Filosofi sepak Ancelotti yang menekankan kemampuan beradaptasi, memberi ruang seluas mungkin bagi kreativitas pemain, dan tidak terpaku pada satu sistem bermain, selaras dengan Jogo Bonito Brasil yang menjunjung permainan menyerang, kreativitas yang mengalir bebas, serta sistem bermain yang tidak kaku.
Baca juga: Pencapaian Asia jadi ironi besar Piala Dunia 2026
Baca juga: Piala Dunia 2026: Swiss, Brasil, Meksiko, Maroko tak terkalahkan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.