Cilacap (ANTARA) - Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan meluncurkan program skrining tuberkulosis dengan rontgen dada bagi sekitar 274.000 warga binaan pemasyarakatan di seluruh Indonesia untuk mempercepat deteksi dini dan menekan penularan penyakit tersebut.
Peluncuran program dilakukan dalam Kick Off Skrining Tb dengan Rontgen Dada dan Cek Kesehatan Gratis Tahun 2026 bagi petugas pemasyarakatan, tahanan, narapidana, dan anak binaan di seluruh Indonesia yang dipusatkan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Ngaseman, Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin.
Dalam kesempatan itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Indonesia masih menghadapi beban tuberkulosis yang tinggi dengan sekitar satu juta kasus baru setiap tahun. Dari jumlah itu, sekitar 126 ribu orang meninggal akibat penyakit yang sebenarnya dapat disembuhkan jika terdeteksi dan diobati sejak dini.
"Setiap tahun yang kena Tb di Indonesia satu juta orang, yang meninggal sekitar 126 ribu orang. Jangan dianggap remeh, Tb ini penyakit menular," katanya.
Menurut dia, lingkungan lembaga pemasyarakatan memiliki risiko penularan Tb lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum karena warga binaan tinggal dan beraktivitas dalam ruang yang terbatas.
Ia mengatakan prevalensi Tb di lapas diperkirakan mencapai sekitar 3 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sekitar 0,5 persen, sehingga diperlukan skrining secara rutin.
"Di lapas ini lebih tinggi karena orangnya tinggal berdekatan, kegiatannya juga banyak di dalam ruangan sehingga penularannya lebih tinggi," katanya.
Ia mengharapkan skrining Tb dengan rontgen dada dapat diterapkan setiap tahun di seluruh 532 lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan yang menampung sekitar 274 ribu warga binaan.
Menurut dia, deteksi dini memungkinkan penderita segera mendapatkan pengobatan hingga sembuh sekaligus mencegah penularan kepada warga binaan lain maupun petugas pemasyarakatan.
Budi menegaskan warga binaan pemasyarakatan memiliki hak memperoleh layanan kesehatan yang sama dengan masyarakat umum, termasuk melalui program skrining tuberkulosis dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang mulai digelar pada 2026.
Menurut dia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berkewajiban memastikan seluruh masyarakat, termasuk warga binaan, memperoleh akses layanan kesehatan yang setara.
"Siapa pun dia, termasuk warga binaan, hak kesehatannya harus sama dengan masyarakat di luar lapas," katanya.
Ia menilai strategi terbaik dalam bidang kesehatan adalah menjaga masyarakat tetap sehat melalui upaya pencegahan, bukan hanya mengobati ketika penyakit sudah muncul.
Berdasarkan laporan yang diterimanya, penyakit yang paling banyak dialami warga binaan antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), stroke, dan penyakit jantung.
Menurut dia, risiko penyakit tersebut dapat ditekan melalui lingkungan yang sehat, ventilasi memadai, paparan sinar matahari yang cukup, aktivitas fisik, serta pola makan yang baik.
Menkes juga meminta pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis yang menjadi salah satu program prioritas Presiden dilakukan secara rutin setiap tahun di lingkungan pemasyarakatan.
Sementara itu, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto menegaskan kementeriannya berkomitmen mendukung percepatan eliminasi Tb melalui pelaksanaan skrining nasional di seluruh lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan.
“Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan untuk mendukung target eliminasi TB pada 2030 sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021,” katanya.
Ia mengingatkan Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TB tertinggi kedua di dunia setelah India sehingga diperlukan langkah luar biasa, termasuk deteksi dini di lingkungan pemasyarakatan yang memiliki risiko penularan lebih tinggi.
Agus menginstruksikan seluruh jajaran pemasyarakatan mendukung penuh pelaksanaan program hingga Desember 2026 agar target pemeriksaan kesehatan dan skrining Tb bagi warga binaan maupun petugas dapat tercapai secara optimal.
Baca juga: Kemenkes optimalkan terapi tuberkulosis untuk cegah penularan kasus
Baca juga: Tingginya temuan kasus Tb bukti efektivitas skrining massal
Pewarta: Sumarwoto
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.