Kota Jambi (ANTARA) - "Sakda" anak gajah sumatra korban jerat di bentang alam (Lanskap) Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) wilayah Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi mulai pulih setelah mendapat perawatan dari petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi.

"Lukanya sudah membaik, sudah bergabung ke kelompoknya," kata Kepala BKSDA Jambi Himawan Sasongko di Jambi, Senin.

Himawan menjelaskan, anak gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang terkena jerat itu diketahui ketika tim melakukan pengawas rutin di lapangan pada pertengahan Juni 2026 lalu.

Saat itu petugas mendapati Sakda berjalan tertatih dengan jerat senar baja yang melilit di kakinya, mengetahui pergerakan tidak normal, petugas mendekati anak gajah tersebut, lalu melakukan pertolongan dengan membuka jerat yang melilit kakinya, lalu mengobati luka menganga akibat luka jerat.

Peristiwa itu terjadi di sekitar perusahaan pemegang izin konsesi penyangga bentang alam TNBT.

Parahnya lagi, sebagian area jelajah gajah sumatra di kawasan itu terdapat sebaran pagar kawat dan jerat yang membahayakan bagi gajah.

Baca juga: BKSDA Jambi pasang kalung pelacak gajah di Bukit Tigapuluh

Petugas menghitung, panjang sebaran pagar mencapai 95 kilometer, dipasang di titik-titik tertentu, bahkan ada yang disertai arus listrik tegangan tinggi. Pemasangan pagar dan jerat itu dilakukan oleh perambah.

Menyikapi hal itu, BKSDA akan mengambil tindakan tegas terhadap oknum perambah yang terbukti sengaja melakukan pemasangan jerat dan pagar di lintasan gajah.

"Kita menyusun rencana mengatasi itu, karena apapun alasannya, pemasangan jerat maupun kawat listrik itu dilarang," katanya.

Dia menambahkan, bentang alam TNBT saat ini memiliki sekitar 120 ekor gajah, 15 diantaranya anakan usia tiga sampai dua tahun.

Selain itu, gajah-gajah itu terbagi dalam enam kelompok, lima betina dan satu kelompok jantan. Semua kelompok besar bahkan telah dipasang kalung pelacak atau Global Positioning System (GPS) collar.

Masing-masing kelompok gajah betina diberi identitas sendiri untuk memudahkan pelacakan. Nama nama kelompok betina itu, masing-masing Xienta, Yunita, Vina, Ginting, Wardani.

Baca juga: Warsi dukung sinergi banyak pihak lestarikan bentang Bukit Tigapuluh

Baca juga: BKSDA Jambi berkolaborasi rencana aksi penyelematan gajah

Pewarta: Agus Suprayitno
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.