Cilacap (ANTARA) - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengingatkan pentingnya mengendalikan tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol untuk mencegah stroke, penyakit jantung, serta gagal ginjal yang masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

"Saya sampaikan juga ke Pak Menteri sebelah saya agar jangan merasa sehat. Anggota TNI dan Polri yang meninggal akibat stroke, jantung, diabetes, dan gagal ginjal jauh lebih banyak dibandingkan yang gugur karena tertembak atau tertusuk saat bertugas," katanya di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin.

Ia mengatakan hal itu dalam Kick Off Skrining Tuberkulosis dengan Rontgen Dada dan Cek Kesehatan Gratis Tahun 2026 Bagi Pegawai Pemasyarakatan, Narapidana, dan Anak Binaan di Seluruh Indonesia yang dipusatkan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Ngaseman, Pulau Nusakambangan, yang dihadiri Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto.

Berdasarkan laporan yang dia terima, penyakit paling banyak dialami warga binaan adalah infeksi saluran pernapasan akut (ispa), stroke, dan penyakit jantung.

Menurut dia, ketiga penyakit tersebut dapat ditekan melalui upaya pencegahan dan deteksi dini.

“Risiko stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal dapat dikurangi dengan menjaga tekanan darah tetap di bawah 120/80 mmHg, kadar gula darah di bawah 200 mg/dL, serta kolesterol di bawah 200 mg/dL,” katanya.

Baca juga: Prabowo perluas CKG dan perkuat penanganan TBC nasional

Ia mengatakan obat untuk mengendalikan ketiga faktor risiko tersebut tersedia di fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun klinik, sehingga masyarakat diminta tidak menunda pemeriksaan maupun pengobatan jika hasil pemeriksaan melebihi batas normal.

Ia juga mengajak masyarakat, termasuk petugas pemasyarakatan dan warga binaan, memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis yang menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Menurut dia, pemeriksaan kesehatan secara berkala memungkinkan penyakit terdeteksi lebih awal sehingga dapat segera ditangani sebelum menimbulkan komplikasi.

Ia mengharapkan penguatan upaya promotif dan preventif tersebut dapat meningkatkan kualitas kesehatan warga binaan maupun petugas pemasyarakatan sekaligus menekan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular maupun tidak menular.

Menteri Imipas Agus Andrianto menegaskan komitmen memperkuat klinik di seluruh lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan sebagai bagian dari dukungan terhadap program kesehatan nasional.

Kementerian Imipas terus meningkatkan kapasitas layanan kesehatan sekaligus kompetensi tenaga medis di lingkungan pemasyarakatan agar mampu memberikan pelayanan yang semakin baik kepada warga binaan.

Ia mengapresiasi dukungan Kementerian Kesehatan berupa bantuan berbagai peralatan medis, seperti monitor pasien, mesin rekam jantung, pompa infus elektronik, dan perangkat kesehatan lainnya.

“Bantuan tersebut akan memperkuat pelayanan kesehatan di lapas dan rutan sekaligus mendukung pelaksanaan program cek kesehatan gratis secara berkelanjutan,” katanya.

Agus mengakui kondisi lapas dan rutan yang masih mengalami kelebihan kapasitas menjadi salah satu faktor tingginya risiko penularan tuberkulosis di lingkungan pemasyarakatan.

Berdasarkan data tahun 2025 prevalensi TB di kalangan warga binaan mencapai 3,64 persen atau 7.972 kasus aktif dari 218.962 warga binaan, sedangkan hingga Maret 2026, prevalensi turun menjadi 0,54 persen dengan sekitar 1.000 kasus aktif dari 271.994 warga binaan.

“Saya berharap tren penurunan tersebut terus berlanjut seiring pelaksanaan skrining massal dan penguatan layanan kesehatan di seluruh lapas dan rutan,” katanya.

Baca juga: Merawat hak kesehatan warga binaan demi Indonesia bebas tuberkulosis

Baca juga: Kemenkes-Kemenimipas percepat skrining Tb bagi 274 ribu warga binaan

Pewarta: Sumarwoto
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.