Haaland sangat sulit dihentikan karena kuat sekali secara fisik, berlari sangat cepat, dan memiliki sentuhan akhir yang nyaris sempurna. Dia adalah senjata paling berbahaya untuk siapa pun lawan Norwegia.
Jakarta (ANTARA) - Stale Solbaken akan menurunkan lagi sebelas pemain pertama yang menerkam Irak dan Senegal dalam dua pertandingan pertama Norwegia, bukan sebelas starter yang diterkam Prancis pada pertandingan terakhirnya di Grup I.
Solbakken menurunkan pemain lapis kedua kala menghadapi Prancis, karena menganggap laga itu sudah tak menentukan lagi.
Dia membuat Norwegia menjadi tim keempat sepanjang sejarah Piala Dunia yang mengganti 10 starternya dalam satu pertandingan Piala Dunia.
Kala itu pikiran Solbakken sudah total pindah ke babak 32 besar. Dia ingin tim intinya siap 100 persen untuk memenangkan laga 32 besar.
Solbakken tak tergoda dengan harapan penggemar bola sedunia untuk bisa menyaksikan duel Haaland versus Kylian Mbappe.
Kini, kala menghadapi Pantai Gading dalam babak 32 besar di Dallas Stadium, Amerika Serikat, pada Selasa (30/6) pukul 24.00 WIB, Solbakken akan menurunkan lagi komposisi asli Norwegia di mana Haaland, Martin Odegaard dan Alexander Sorloth, kembali beraksi.
Bagi Haaland, kembalinya Norwegia ke setelan awal adalah peluang menjadi pemain pertama dalam 72 tahun terakhir yang mencetak lebih dari satu gol dalam tiga laga penampilan berturut-turut pada Piala Dunia.
Orang terakhir yang melakukan hal ini adalah Sandor Kocsis pada Piala Dunia 1954.
Striker Manchester City itu sudah mencetak empat gol, setelah masing-masing mencetak dua gol ke gawang Irak dan Senegal, yang membuat Norwegia mendapatkan enam poin di fase gugur.
Dia berkesempatan mendapatkan lagi minimal dua gol dari Pantai Gading, untuk menyamai atau melampaui pencapaian Lionel Messi dalam Piala Dunia ini.
Kemungkinan hal itu bisa dicapai Haaland karena sistem bermain Norwegia sangat mengakomodasi stiker tinggi besar tapi cepat itu.
Haaland adalah bagian tak terpisahkan dari sukses Norwegia memasuki lagi Piala Dunia setelah 28 tahun selalu gagal.
Solbakken yang pragmatis sangat memprioritaskan formasi yang memaksimalkan kekuatan pemain bintang seperti Haaland karena hal itu lebih memastikan adanya kemenangan, dari pada harus berpegang pada satu sistem permainan yang ideal.
Di bawah asuhannya, Norwegia bermain dalam pola pragmatis 4-3-3 atau 4-4-2.
Baca juga: Haaland bangga antar Norwegia petik dua kemenangan berturut-turut
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.